"Yang galak lebih selamat."
"Yang patuh justru repot."
"Ikut campur? Hati-hati, bisa kena getahnya."
Nah, kasus Hogi seperti memperbesar pesan-pesan kelam itu ke layar nasional. Bukan semata-mata karena persoalan hukumnya, tapi lebih pada sinyal sosial yang dikirimkannya.
Menurut sejumlah saksi, Hogi bergerak karena refleks. Itu murni respons spontan saat orang yang disayangi terancam, bukan hasil perencanaan. Dalam ilmu sosial, ini disebut respons fight or flight reaksi biologis bawaan saat menghadapi ancaman.
Masalahnya dimulai ketika "respons darurat" alami ini diperlakukan layaknya peristiwa hukum biasa. Seolah-olah menekan rem darurat sama saja dengan sengaja menabrak.
Di sinilah bahaya paling serius mengintai: ketakutan untuk berbuat baik, atau chilling effect. Ketika satu orang berniat baik malah terkena masalah, seribu orang lain akan memilih untuk diam. Masyarakat kita lalu berubah: mungkin lebih aman secara pribadi, tapi pasti lebih dingin secara sosial.
Sejarah sudah membuktikan. Masyarakat yang bertahan bukanlah yang hukumnya paling keras, melainkan yang kepercayaan sosialnya paling kuat.
Kepercayaan itu tumbuh subur ketika warga yakin, "Kalau saya berbuat benar, sistem tidak akan mengorbankan saya."
Ini sama sekali bukan penolakan terhadap hukum. Ini justru permohonan agar hukum bekerja dengan nurani. Sebab tugas hukum yang sejati bukan cuma menutup perkara, tapi menuntun masyarakat ke arah yang lebih baik.
Pertanyaannya kemudian sederhana, tapi bobotnya berat: kita ini sedang membangun warga yang jujur, atau yang cuma pandai menghindar? Warga yang peduli, atau yang memilih tutup mata?
Kebenaran memang tak selalu menyenangkan. Ia sering memaksa kita untuk berhenti sejenak dan bercermin.
Pada akhirnya, kasus ini bukan cuma tentang Hogi. Ini tentang arah yang sedang kita tempuh sebagai bangsa. Kalau berbuat baik saja sudah bikin takut, jangan heran nanti jika semua terlihat rapi di permukaan, tapi tak ada lagi yang saling peduli di dalamnya.
Dan saat itu tiba, mungkin sudah terlambat untuk bertanya: ke mana perginya orang-orang baik?
Devie Rahmawati CICS. Peneliti Sosial Vokasi UI.
Artikel Terkait
Wamendagri Soroti Peran Vital BUMD, Integritas Pengelola Jadi Penentu
Tuntas Tahap Pertama, Jalan Payakumbuh-Sitangkai Siap Lanjut ke Batusangkar
Mimpi Air Bersih Warga Kampung Tambat Akhirnya Terwujud
Jogging Track Liar di Situ Tujuh Muara Akhirnya Runtuh Setelah Operasi Gabungan