Pembersihan di Puncak: Dua Jenderal Andalan Xi Jinping Diselidiki

- Rabu, 28 Januari 2026 | 16:05 WIB
Pembersihan di Puncak: Dua Jenderal Andalan Xi Jinping Diselidiki

"Xi juga telah melanggar banyak aturan dan hal tabu yang telah lama berlaku di militer, dengan mempromosikan sekutu-sekutu terpercaya lebih awal dari biasanya untuk memperkuat kekuasaannya," ujar Ming-Shih Shen dari Institute for National Defense and Security Research Taiwan.

Tapi Shen berpendapat, setelah gelombang pertama pembersihan, Zhang mungkin merasa terpojok dan terancam, meski awalnya bukan target.

"Xi Jinping jelas tidak lagi mempercayainya," tegas Lin.

"Spekulasi soal alasan kejatuhan Zhang, entah korupsi, suap, atau bahkan dugaan spionase seperti yang dilaporkan media AS, jadi tidak relevan jika kepercayaan sudah hilang. Begitu kepercayaan hilang, tuduhan spesifik hanyalah formalitas belaka."

Jaringan dan Ancaman Kekuasaan

Laporan People's Liberation Army Daily tentang kasus ini cukup keras. Koran itu menuduh Zhang menyalahgunakan wewenang yang diberikan ketua sebagai panglima tertinggi. Ditekankan, tidak ada pangkat yang memberi kekebalan, dan tidak ada kehormatan militer yang bisa melindungi seseorang dari proses hukum.

Bahasa seperti itu, menurut Chung Chieh, peneliti di Institute for National Defense and Security Research Taiwan, mengisyaratkan Zhang mungkin telah membangun jaringan pendukung yang loyal di dalam militer.

"Jaringan ini kemungkinan besar dianggap oleh Xi Jinping sebagai ancaman potensial. Kepentingan inti Xi atau partai tampaknya berada dalam posisi yang terancam."

Siapa pun yang mempertanyakan otoritas Xi sebagai ketua, tambah Chung, berisiko dituduh tidak loyal atau bahkan memberontak.

Di forum daring berbahasa Mandarin, situasi ini jadi bahan lelucon politik yang getir. "Tentara sekarang sedang berperang melawan para jenderalnya sendiri," begitu kira-kira salah satu candaan yang beredar. Atau, "Parade militer berikutnya akan dipimpin oleh seorang jenderal yang enggan disebut namanya."

Ironisnya, di tengah gejolak internal ini, Tiongkok terus memamerkan kekuatan militernya ke luar. Manuver angkatan laut di Pasifik tak henti. Belanja militernya pada 2025 mencapai angka fantastis, sekitar €220 miliar.

Semua ini terjadi sementara Tiongkok sendiri sudah puluhan tahun tidak terlibat perang sesungguhnya. Pertarungannya justru ada di dalam.


Halaman:

Komentar