Sepanjang tahun 2025, Bali ternyata tak sepenuhnya tenang. Data terbaru dari BPBD provinsi setempat mencatat, ada 2.644 kejadian bencana yang menghampiri seluruh kabupaten dan kota di pulau itu. Angkanya cukup mencengangkan. Pohon tumbang dan banjir jadi bencana yang paling sering muncul, mendominasi laporan kejadian.
Kalaksa BPBD Bali, I Gede Teja, membeberkan rinciannya saat dikonfirmasi Rabu lalu.
“Totalnya 2.644 kejadian. Yang paling banyak, pohon tumbang, mencapai 880 kali. Lalu banjir 482 kejadian, disusul tanah longsor 365 kali,” jelas Teja.
Ia melanjutkan, “Selain itu, ada juga kebakaran 152 kejadian, plus angin kencang dan hujan deras yang tercatat 294 kali.”
Dampaknya? Sungguh tidak main-main. Rangkaian musibah itu meninggalkan jejak pilu: 1.609 rumah rusak, hutan seluas 76 hektare hangus terbakar, dan yang paling memilukan, 45 nyawa melayang. Ada pula 18 orang luka-luka dan empat lainnya masih dinyatakan hilang. Kerugian materielnya ditaksir mencapai Rp 146,9 miliar angka yang fantastis.
Menurut Teja, bencana-bencana itu tersebar merata. Tapi intensitasnya lebih tinggi di daerah padat penduduk, sepanjang aliran sungai, area perbukitan, dan tentu saja, wilayah-wilayah yang rawan cuaca ekstrem. Polanya punya tren waktu yang jelas. “Lonjakan kejadian signifikan terjadi pada bulan-bulan curah hujan tinggi, terutama di awal dan akhir tahun,” ujarnya.
Di sisi lain, respons pemerintah sudah berjalan. Untuk meringankan beban warga, Pemprov Bali menggelontorkan bantuan sosial tunai senilai Rp 14,05 miliar. Dana itu diambil dari pos Belanja Tidak Terduga (BTT) APBD 2025. Bantuan logistik dasar juga disalurkan, termasuk sekitar 5 ribu liter air bersih untuk masyarakat yang terdampak.
Namun begitu, bagi Teja, data tahun ini bukan sekadar angka statistik. Ia berharap catatan itu bisa jadi pijakan kuat untuk memperbaiki mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi tahun 2026. Ancaman ke depan masih nyata.
Potensi bencananya beragam. Mulai dari banjir dan genangan di kota-kota serta daerah aliran sungai, tanah longsor di perbukitan yang jenuh air, hingga cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang. Wilayah pesisir selatan Bali juga perlu waspada terhadap gelombang tinggi dan abrasi.
Berdasarkan pemetaan risiko, ada sejumlah wilayah yang butuh perhatian khusus. Kawasan perkotaan dengan drainase terbatas, wilayah perbukitan yang punya riwayat longsor, dan pesisir selatan yang rentan terhadap cuaca laut ekstrem masuk dalam daftar prioritas.
Teja menegaskan satu hal penting. Baginya, penanggulangan bencana bukan cuma soal respons cepat saat kejadian.
“Penanggulangan bencana tidak berhenti pada penanganan kejadian. Ini harus diperkuat dari hulunya, di fase pra-bencana, lewat pengurangan risiko dan peningkatan kesiapsiagaan. Kolaborasi lintas sektor juga mutlak diperlukan,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Puluhan Dapur Makan Bergizi Gratis di Jombang Berhenti Beroperasi Akibat Dana Operasional dari BGN Mandek
Timnas Indonesia Tutup FIFA Matchday Juni 2026 dengan Kemenangan Sempurna, Taklukkan Mozambik 1-0
WNA Singapura Ditemukan Tewas di Apartemen Batam Center, Polisi Selidiki Penyebab Kematian
Timnas Putri Indonesia Ditahan Imbang Kamboja di Laga Penutup FIFA Matchday