Di tengah riuh JICC Jakarta, Sabtu lalu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesannya dengan nada tegas. Bukan sekadar olahraga, katanya, pencak silat adalah cerminan jati diri kita. Pernyataan itu ia sampaikan di hadapan peserta Musyawarah Nasional XVI Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).
Menurut Prabowo, ada nilai-nilai luhur yang melekat erat dalam tradisi ini. Keberanian, kehormatan, dan kerendahan hati. Juga komitmen untuk membela apa yang benar dan adil.
“Pencak silat itu bagian dari budaya kita, dan pencak silat itu bagian daripada ilmu kesatria,” ujarnya.
Ia lantas menekankan soal sosok seorang pendekar. Kekuatan fisik saja tidak cukup. Harus ada kekuatan jiwa, akhlak, dan keimanan yang menyertainya. Prabowo mengingatkan sebuah prinsip: semakin tinggi ilmu seseorang, justru semakin besar tuntutan untuk bersikap rendah hati. Bukan merendahkan diri, tapi menghormati.
“Ajaran guru-guru kita, semakin berisi semakin menunduk. Ilmu kita adalah demikian. Kerendahan hati, bukan kerendahan diri. Kita hormat, sopan santun, itu adalah budaya kita. Kesatria, pendekar, selalu membela kebenaran, selalu membela yang lemah, selalu membela yang tertindas, selalu membela keadilan,” tegasnya.
Di sisi lain, Presiden menyoroti satu hal yang kerap terlupakan: kebanggaan akan budaya sendiri. Di era globalisasi ini, jangan sampai kita kehilangan rasa itu. Ia memberi contoh sederhana. Dalam acara-acara kebangsaan, ia selalu bangga mengenakan pakaian daerah.
“Kita bangga pakai teluk belanga, kita bangga pakai kopiah, kita bangga pakai sarung, kita bangga pakai songket. Ini budaya kita. Kau lihat sudah berapa presiden, sebelum saya Presiden Jokowi, saya. Tiap hari kebangsaan kita pakai pakaian kita sendiri dari macam-macam daerah. Mungkin bulan ini atau tahun ini kita pakai dari daerah ini, kita gantian. Kita bangga dengan budaya kita sendiri,” imbuhnya.
Pesan intinya jelas: jangan sampai inferior terhadap budaya asing. Menghormati bangsa lain itu penting, tapi jangan lupa menghormati leluhur dan identitas sendiri. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati budaya sendiri,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Prabowo menilai peran IPSI sangat strategis. Tidak hanya menjaga warisan, tapi juga membentuk karakter bangsa. Ia mengapresiasi konsistensi organisasi ini.
Ajakan terakhirnya pun jelas. Kepada seluruh insan pencak silat, ia meminta komitmen untuk menjaga kemurnian ajaran, memperkuat karakter, dan terus menanamkan kebanggaan pada budaya Indonesia. Di tengah perubahan zaman yang tak terbendung, itulah benteng kita.
Artikel Terkait
Maya Denham Resmi Pegang Paspor Indonesia, Talenta Muda Keturunan Siap Perkuat Timnas Putri
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026, Ini Amalan Sunnah Sebelum Shalat
Nama Nenad Bacina Muncul dalam Bursa Calon Pelatih PSM Makassar Musim Depan
Takbiran Idul Adha Dimulai Sejak Maghrib Malam Raya hingga Ashar 13 Dzulhijjah, Ini Perbedaan Durasi Menurut Mazhab