BMKG Peringatkan Puncak Musim Kemarau Kering dan Risiko Karhutla Meningkat

- Minggu, 12 April 2026 | 02:30 WIB
BMKG Peringatkan Puncak Musim Kemarau Kering dan Risiko Karhutla Meningkat

Jakarta - Awas, titik panas kebakaran hutan dan lahan diprediksi bakal melonjak tahun ini. Peringatan itu datang langsung dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Analisis terbaru mereka menyebut musim kemarau 2026 akan berlangsung lebih kering dari biasanya, dimulai sekitar April dan berakhir September nanti.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan situasinya. Menurutnya, sebagian besar wilayah Indonesia bakal mengalami kemarau di bawah normal. Artinya, curah hujan akan jauh lebih rendah.

"Kondisi tahun ini akan lebih kering dibandingkan normal," ujar Faisal, Sabtu (11/4).

Tak cuma lebih kering, kemarau tahun ini juga disebut datang lebih awal dan berlangsung lebih lama. Itu berita buruk. Dan situasinya mungkin makin parah karena ada potensi El Nino menguat di semester kedua 2026, dari level lemah sampai moderat. Fenomena itu jelas bisa menyulut risiko karhutla.

Data awal tahun sudah menunjukkan tren mengkhawatirkan. Sejak Januari lalu, jumlah hotspot atau titik panas terus naik signifikan. Hingga awal April ini, angkanya sudah tembus lebih dari 1.600 titik jauh lebih tinggi ketimbang periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya.

Lantas, apa penyebabnya?

Deputi Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyoroti dinamika iklim global. Faktor utama adalah fenomena ENSO, dengan pemanasan di wilayah Nino 3.4 yang berpotensi berkembang jadi El Nino.

"Kalau El Nino terbentuk, pembentukan awan hujan di Indonesia bisa tertekan. Ujung-ujungnya, curah hujan turun," jelas Ardhasena.

Dia memperkirakan periode kritis karhutla akan dimulai Mei mendatang dan berlangsung hingga September. Puncaknya paling rawan terjadi pada Agustus-September, seiring meluasnya daerah dengan curah hujan minim.

Di sisi lain, upaya mitigasi di lapangan masih punya celah. Plt Deputi Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menekankan pentingnya memanfaatkan informasi cuaca jangka pendek.

"Dalam sepekan ke depan masih ada potensi hujan di beberapa wilayah rawan. Ini jadi kesempatan emas untuk menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca sebelum semuanya jadi terlalu kering," kata Andri.

BMKG sendiri mengaku terus memperketat pemantauan. Mereka mengandalkan data satelit yang di-update setiap lima menit, plus sistem peringatan dini berbasis indeks kerawanan kebakaran.

Upaya lain yang sudah jalan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Deputi Bidang Modifikasi Cuaca, Tri Handoko Seto, menyebut OMC telah dijalankan di sejumlah wilayah prioritas. Riau, contohnya, sejak 28 Maret lalu.

"Hasilnya cukup signifikan. Di Riau, operasi ini sudah menghasilkan tambahan curah hujan ratusan juta meter kubik untuk pembasahan lahan," papar Seto.

Dia menegaskan, pendekatan sekarang lebih mengutamakan tindakan preventif. Fokusnya pada pembasahan lahan atau rewetting. Tujuannya satu: memadamkan potensi api sedini mungkin, sebelum bara itu benar-benar berkobar.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar