Dunia olahraga Indonesia kembali diguncang kabar buruk. Dua kasus kekerasan seksual yang menimpa atlet panjat tebing dan kickboxing memantik reaksi keras dari berbagai kalangan, tak terkecuali PSSI. Federasi sepak bola tanah air itu menyatakan sikap tegasnya: mendukung penuh langkah Menpora Erick Thohir untuk memberantas predator seksual. Intinya, kata mereka, nggak ada toleransi sedikit pun buat pelaku.
Menurut sejumlah saksi, kasus-kasus ini memang bikin geram. Sekjen PSSI, Yunus Nusi, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Olahraga, dalam pandangannya, seharusnya jadi ruang yang menjunjung tinggi sportivitas dan saling menghormati. Tindakan kekerasan seksual jelas menginjak-injak semua nilai luhur itu.
“PSSI sangat menyayangkan kekerasan seksual yang menimpa atlet. Olahraga dibangun di atas nilai sportivitas, rasa saling menghormati, dan integritas. Kekerasan seksual jelas merupakan tindakan yang mencederai nilai-nilai tersebut dan tidak boleh mendapat tempat dalam ekosistem olahraga,” tegas Yunus dalam keterangan resminya, Senin (16/3/2026).
Ia melanjutkan, dampaknya jauh lebih luas. “Kejadian ini bukan hanya menyedihkan bagi atlet sebagai korban ataupun keluarganya saja, tapi juga bagi seluruh masyarakat Indonesia karena para atlet tersebut sudah memberikan prestasi baik untuk daerah mereka ataupun untuk bangsa,” imbuhnya.
Yunus berharap proses hukum berjalan serius dan transparan. Di sisi lain, ia juga mengapresiasi respons cepat Kemenpora. Langkah Erick Thohir membuka ruang pengaduan bagi atlet dinilainya sebagai tindakan tepat. “Kami berterima kasih kepada Bapak Menpora karena terus mengawal kasus ini,” ujarnya. Dengan perhatian seperti itu, ia berharap tiap cabang olahraga makin fokus pada keamanan atletnya.
Suara senada datang dari Exco PSSI, Vivin Cahyani Sungkono. Baginya, olahraga wajib jadi ruang aman. Titik. Atlet harus bisa berlatih dan berkembang tanpa dihantui rasa takut.
“Atlet adalah kebanggaan bangsa yang harus kita jaga dan lindungi. Mereka berhak berlatih, bertanding, dan berkembang dalam lingkungan yang aman terlindungi bukan malah menjadi ruang yang menimbulkan trauma. Untuk para predator di dunia olahraga, tidak ada kata toleransi,” kata Vivin.
Ia menuntut hukuman setimpal. “Hukuman ini sebagai pesan tegas dunia olahraga Indonesia adalah wilayah terlarang bagi pelaku kekerasan,” tegasnya. Tujuannya jelas: efek jera. Agar masa depan atlet tak ada lagi yang dikorbankan.
Lalu, bagaimana mencegah hal serupa di sepak bola? Vivin punya sejumlah catatan. Sistem perlindungan atlet harus diperkuat, mulai dari advokasi korban hingga penegakan regulasi. Kode etik yang melarang segala bentuk kekerasan juga perlu ditegakkan. Tak kalah penting, edukasi berkelanjutan buat atlet, pelatih, dan ofisial soal batasan perilaku profesional.
“Kita ingin para atlet fokus pada prestasi tanpa dibayangi rasa takut atau tekanan,” paparnya. Upaya ini, menurut Vivin, adalah tanggung jawab bersama. Bukan cuma federasi. “Kita harus memastikan dunia sepakbola Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, profesionalitas, dan rasa hormat,” tandasnya.
Pesan mereka jelas. Gelanggang olahraga harus steril dari teror. Prestasi, bukan trauma, yang harus dibawa pulang oleh atlet.
Artikel Terkait
Menkeu Terbitkan Aturan Baru Tata Kelola Anggaran OJK, Pemerintah Jamin Independensi Tetap Terjaga
Indeks Kepercayaan Industri April 2026 Turun Tipis ke 51,75, Kemenperin Sebut Masih Ekspansif
Nova Arianto Puji Transisi Timnas Indonesia di Bawah John Herdman, Optimistis Hadapi Piala AFF 2026
Prabowo Targetkan Bangun 30–40 Proyek Hilirisasi Baru demi Hentikan Ekspor Bahan Mentah