Di gedung DPR, Selasa lalu, suasana cukup tegang. Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno berusaha menjawab berbagai pertanyaan kritis. Salah satu poin yang dia tekankan: Palestina memang dilibatkan dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) yang baru dibentuk itu. Menurutnya, kehadiran teknokrat Palestina saat pembukaan di Davos adalah buktinya.
"Ada kan, lho kan ada, teknokrat-teknokrat kan ada kan," ujar Arif dengan nada meyakinkan.
Dia lalu mengajak yang hadir untuk mengingat. "Executive boardnya kan ada para teknokrat pada saat pembukaan di Davos, ingat nggak? Cek lagi deh."
Arif kemudian menjelaskan lebih lanjut. "Jadi ada orang Palestina yang bicara, itu teknokrat dari Palestina. Mereka yang akan menjadi orang yang melaksanakan beberapa programnya nanti."
Tak hanya sekali, dia menegaskan hal itu. "Ya otoritas Palestina. Dia teknokrat dari otoritas Palestina," sebutnya lagi, menepis keraguan.
"Selama ini Dewan Keamanan PBB kan nggak ngapa-ngapain," ucapnya blak-blakan.
Dia lalu mengajak melihat sejarah. "DK PBB dibentuk tahun berapa? Empat lima kan? So what have they done since 1945?"
Bagi Arif, situasi ini adalah kenyataan pahit yang harus diakui. "Ini kan real kan, jadi kita coba dulu," tuturnya, mencoba memberikan alasan dibalik pembentukan lembaga baru tersebut.
Artikel Terkait
Gus Ipul Beberkan Anggaran Rp 2 Triliun untuk Tangani Bencana di Sumatera
Wamen Ribka: Otsus Papua Bukan Cuma Soal Transfer Dana
Kapal Induk Prancis Berlayar ke Atlantik Utara, Ketegangan Greenland Memanas
Ahok Buka Suara: Dari Larangan Main Golf hingga Pengawasan Etika di Pertamina