Havas Tegaskan Palestina Terlibat dalam Dewan Perdamaian Baru, Kritik Kinerja DK PBB

- Selasa, 27 Januari 2026 | 20:20 WIB
Havas Tegaskan Palestina Terlibat dalam Dewan Perdamaian Baru, Kritik Kinerja DK PBB

Di gedung DPR, Selasa lalu, suasana cukup tegang. Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno berusaha menjawab berbagai pertanyaan kritis. Salah satu poin yang dia tekankan: Palestina memang dilibatkan dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) yang baru dibentuk itu. Menurutnya, kehadiran teknokrat Palestina saat pembukaan di Davos adalah buktinya.

"Ada kan, lho kan ada, teknokrat-teknokrat kan ada kan," ujar Arif dengan nada meyakinkan.

Dia lalu mengajak yang hadir untuk mengingat. "Executive boardnya kan ada para teknokrat pada saat pembukaan di Davos, ingat nggak? Cek lagi deh."

Arif kemudian menjelaskan lebih lanjut. "Jadi ada orang Palestina yang bicara, itu teknokrat dari Palestina. Mereka yang akan menjadi orang yang melaksanakan beberapa programnya nanti."

Tak hanya sekali, dia menegaskan hal itu. "Ya otoritas Palestina. Dia teknokrat dari otoritas Palestina," sebutnya lagi, menepis keraguan.

p>Pembahasan soal klausul ini, kata Havas, sebenarnya sudah berjalan lama. Bahkan sebelum Indonesia memutuskan untuk bergabung ke dalam BoP. Di sisi lain, pertanyaan lain muncul: bagaimana dengan mandat Dewan Keamanan PBB yang sudah ada? Arif tak sungkan menyampaikan kritik pedas.

"Selama ini Dewan Keamanan PBB kan nggak ngapa-ngapain," ucapnya blak-blakan.

Dia lalu mengajak melihat sejarah. "DK PBB dibentuk tahun berapa? Empat lima kan? So what have they done since 1945?"

Bagi Arif, situasi ini adalah kenyataan pahit yang harus diakui. "Ini kan real kan, jadi kita coba dulu," tuturnya, mencoba memberikan alasan dibalik pembentukan lembaga baru tersebut.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Sugiono telah memberi penjelasan terkait partisipasi Indonesia. Salah satu tujuan iuran di BoP, katanya, adalah untuk rekonstruksi Gaza. Itu jadi alasan kuat bagi Indonesia untuk ikut serta.

"Presiden memutuskan untuk ikut partisipasi," kata Sugiono di kompleks parlemen, di hari yang sama.

Dia berusaha meluruskan persepsi. "Jadi gini, ini bukan membership fee. Tapi kalau kita lihat kronologinya, bahwa menentukan Board of Peace ini merupakan suatu upaya untuk bisa menyelesaikan situasi di Gaza, pada khususnya Palestina, termasuk upaya rekonstruksi."

Lalu, dari mana dananya? Pertanyaan itu dijawabnya dengan logika partisipasi. "Terus rekonstruksi ini siapa yang bayar? Uangnya dari mana? Dananya dari mana? Karena itu, anggota-anggota yang diundang itu diajak untuk berpartisipasi di situ."

Memang, tak ada paksaan untuk membayar. Namun, ada insentif yang ditawarkan. "Yang tentu saja, ada keuntungan lain, yaitu merupakan anggota tetap," tambah Sugiono.

Intinya, Dewan Perdamaian ini lahir dari sebuah kebutuhan mendesak. Sebuah upaya konkret untuk perdamaian di tanah Palestina, yang selama ini terasa jauh dari kata tercapai.

"Karena Board of Peace ini sendiri lahir dari upaya untuk menciptakan perdamaian di Gaza dan Palestina," pungkasnya menutup penjelasan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar