Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Sugiono telah memberi penjelasan terkait partisipasi Indonesia. Salah satu tujuan iuran di BoP, katanya, adalah untuk rekonstruksi Gaza. Itu jadi alasan kuat bagi Indonesia untuk ikut serta.
"Presiden memutuskan untuk ikut partisipasi," kata Sugiono di kompleks parlemen, di hari yang sama.
Dia berusaha meluruskan persepsi. "Jadi gini, ini bukan membership fee. Tapi kalau kita lihat kronologinya, bahwa menentukan Board of Peace ini merupakan suatu upaya untuk bisa menyelesaikan situasi di Gaza, pada khususnya Palestina, termasuk upaya rekonstruksi."
Lalu, dari mana dananya? Pertanyaan itu dijawabnya dengan logika partisipasi. "Terus rekonstruksi ini siapa yang bayar? Uangnya dari mana? Dananya dari mana? Karena itu, anggota-anggota yang diundang itu diajak untuk berpartisipasi di situ."
Memang, tak ada paksaan untuk membayar. Namun, ada insentif yang ditawarkan. "Yang tentu saja, ada keuntungan lain, yaitu merupakan anggota tetap," tambah Sugiono.
Intinya, Dewan Perdamaian ini lahir dari sebuah kebutuhan mendesak. Sebuah upaya konkret untuk perdamaian di tanah Palestina, yang selama ini terasa jauh dari kata tercapai.
"Karena Board of Peace ini sendiri lahir dari upaya untuk menciptakan perdamaian di Gaza dan Palestina," pungkasnya menutup penjelasan.
Artikel Terkait
Drama Kelarga di Mataram: Anak Tewaskan Ibu Gara-Gara Tak Diberi Uang
Saksi Pajak GoTo Diperiksa, Transaksi Saham Google Rp 1,4 Triliun Jadi Sorotan
Konsultan Jadi Ujung Tombak Dugaan Suap Pajak Rp75 Miliar
Polisi Bekasi Bongkar Jaringan Tramadol Ilegal, Diduga Picu Tawuran