Efeknya langsung terasa. Jumlah turis China yang ke Jepang bulan lalu anjlok 45% dibanding tahun sebelumnya hanya sekitar 330.000 orang. Padahal, sebelumnya mereka adalah pasar utama pariwisata Jepang.
Nah, di tengah momen libur panjang Imlek bulan depan, pemerintah China mengulang dan mempertegas peringatannya. Mereka juga menyinggung soal risiko gempa bumi yang kerap terjadi di Jepang. Intinya, situasinya dianggap kurang kondusif untuk bersantai.
Ini cukup pukulan buat Jepang. Bayangkan, sebelum perselisihan ini memuncak, hampir 7,5 juta warga China sudah berkunjung dalam sembilan bulan pertama 2025 saja. Mereka biasa berbelanja dengan royal, didorong nilai yen yang lemah pengeluarannya mencapai $3,7 miliar hanya di kuartal ketiga.
Jadi, sementara gelombang perjalanan domestik dan internasional diprediksi melonjak selama sembilan hari libur Imlek, arus ke Jepang kemungkinan besar akan sepi. Suasana politik ternyata bisa mengubah rencana liburan begitu banyak orang.
Artikel Terkait
Kerangka Hangus di Lombok Barat: Botol Bahan Bakar dan Tali Nilon Jadi Kunci Misteri
Wali Kota Serang Laporkan Media, Dewan Pers Jadi Bahan Perdebatan
Kapal Terbakar di Perairan Penjaringan, 85 Personel Dikerahkan
Kepala Desa Picu Kontroversi, Adu Ancaman Senjata di Tengah Sengketa Lahan