Di sisi lain, ada lagi kebutuhan mendesak yang disampaikan korban. Bukan cuma sandang pangan. Mereka sangat berharap jaringan internet segera pulih. Kenapa? Akses untuk beribadah dan mengikuti ceramah agama secara daring rupanya jadi penenang jiwa di tengah kepungan duka.
"Mereka juga ingin Zoom, mengikuti ceramah-ceramah di tempat yang lain karena dia tidak bisa mengakses di lapangan, jadi minta jaringan Zoom ceramah agama. Bukan hanya agama Islam, tapi agama lain kita perlakukan sama,"
Menanggapi hal ini, Kemenag sudah bergerak lebih dulu. Mereka telah mengirimkan sejumlah kiai dan pendeta langsung ke lokasi pengungsian. Menurut Nasaruddin, kehadiran para pemuka agama itu sangat dinantikan. Warga rindu mendengar wejangan dan nasihat yang meneduhkan.
“Kita kirim pastur dan pendeta, kiai-kiai yang dari, yang diminta oleh mereka untuk bergilir datang ke tempat,” jelasnya.
Jadi, di antara upaya tanggap darurat yang serba mendesak, ternyata ada permintaan-permintaan yang menyentuh sisi paling manusiawi: merayakan cinta di tengah duka, dan mencari ketenangan batin di saat segalanya terasa berantakan.
Artikel Terkait
Bocah 7 Tahun Ditemukan Sendirian di JPO Gatot Subroto, Kini Kembali ke Pelukan Orang Tua
Angin Puting Beliung Porak-Porandakan Rumah dan Sekolah di Kalibaru
Tommy Djiwandono Resmi Jadi Deputi Gubernur BI, Klaim Independensi Ditegaskan dengan Surat Pengunduran Diri dari Gerindra
Keponakan Prabowo Lolos Uji Kelayakan, Siap Duduk di Kursi Deputi Gubernur BI