Faktor cuaca jadi perhatian serius. Bahkan modifikasi cuaca telah dilakukan bersama BNPB agar langit bersahabat. Bantuan anjing pelacak (K9) dari Polri dan TNI juga turun membantu menyisir lokasi.
Wacana Relokasi Jangka Panjang Mulai Digaungkan
Di lokasi terpisah, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menekankan dua hal. Pertama, evakuasi harus maksimal. Kedua, rencana relokasi warga harus segera disiapkan.
Menurut Tito, kawasan bencana itu sudah tidak layak huni. Dia menyarankan agar lahan tersebut direboisasi dengan tanaman keras untuk menguatkan tanah. Wilayah dengan karakter tanah gembur dan subur seperti itu, meski baik untuk tanaman, ternyata sangat rawan untuk pondasi bangunan.
Ini jadi pelajaran pahit bagi banyak daerah. Pemetaan kawasan rawan bencana hidrometeorologi, kata Tito, harus diperkuat.
Mencari Titik Aman untuk Tempat Tinggal Baru
Longsor yang meratakan 30 rumah itu memang memaksa pemerintah bergerak cepat. Selain hunian sementara, skema relokasi jadi opsi utama.
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menyebut ada dua opsi penampungan sementara: hunian darurat atau menitipkan warga ke sanak saudara. Namun untuk jangka panjang, relokasi adalah jawabannya, baik secara terpusat maupun mandiri.
Yang menarik, relokasi tak hanya untuk korban langsung. Warga di kawasan rawan lainnya yang belum terdampak pun akan dipindahkan demi keamanan. Ada pesan khusus dari Wakil Presiden agar pemilihan lokasi baru dilakukan dengan sangat hati-hati. Jangan sampai salah pilih dan malah membawa musibah baru di masa depan.
Artikel Terkait
Laporan Warga ke 110 Gagalkan Pesta Narkoba di Gedung Kosong Pekanbaru
Kortas Tipikor Polri Kembalikan Aset Negara Rp 2,37 Triliun
Polisi Periksa ART hingga Sopir, Reza Arap Belum Pasti Hadir dalam Kasus Meninggalnya Lula Lahfah
Kapolri Pasang Target 10 Detik dan 10 Menit untuk Layanan Darurat 110