Langkah itu diambil setelah serangkaian teguran, terutama terkait tata kelola keuangan dan program akademi kepemimpinan yang dinilai melanggar aturan. Instruksi penghentian sementara Akademi Kepemimpinan Nasional NU pun diterbitkan. Bagi Kiai Miftah, semua ini demi satu hal: menjaga muruah organisasi di mata publik.
Keempat, amanah dari Mbah Moen.
Alasan ini mungkin yang paling menyentuh secara emosional. Almarhum KH Maimoen Zubair, atau Mbah Moen, disebut-sebut secara khusus memproyeksikan Kiai Miftah untuk memimpin NU. Restu dan doa dari kiai sepuh tersebut bukan hal sepele.
"Doa Mbah Moen terkabul,"
begitu kata banyak kiai saat Kiai Miftah terpilih. Ini penegasan bahwa kepemimpinannya bukan sekadar hasil pemungutan suara, melainkan juga pertanggungjawaban atas amanah keilmuan dan perjuangan.
Kelima, totalitas dan keteguhan.
Kiai Miftah dikenal sebagai sosok yang suyukhan dan rosikhan total dalam pengabdian dan kokoh dalam prinsip. Beliau berusaha menyeimbangkan urusan kebangsaan yang pelik dengan pelayanan kepada umat. Pesannya konsisten: NU adalah wadah untuk menata hidup bagi kebaikan bersama, bukan sekadar tempat mencari kehidupan.
Maka, melihat gabungan semua aspek tadi kedalaman ilmu, kesederhanaan hidup, ketegasan, dan restu dari kiai sepuh tampaknya memang tak ada yang lebih layak saat ini. Melanjutkan kepemimpinan KH Miftachul Akhyar bisa jadi langkah penting untuk menjaga stabilitas NU ke depan. Wallahu'alam bishawab.
KH Imam Jazuli, Lc., MA
Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon
Artikel Terkait
Empat Anak Diamankan Usai Lempar Batu Hancurkan Kaca Kereta Jayakarta Premium
Warga dengan Gangguan Jiwa Terseret Arus Irigasi di Tengah Pembagian Sembako
22 Unit Damkar Dikerahkan Atasi Kobaran Api di Rumah Tebet
Prabowo Gelar Rapat Dadakan di Bogor Usai Tur Dunia