"Apa yang terjadi di negara kita sungguh menjijikkan," katanya tegas. "Apa yang dilakukan Trump dan Kristi Noem dan ICE terhadap warga negara kita dan orang-orang yang tanpa dokumen adalah keterlaluan. Ini harus diakhiri."
Insiden penembakan yang memicu kemarahan publik ini sendiri masih diselimuti dua versi. Departemen Keamanan Dalam Negeri bersikukuh menyebutnya sebagai tindakan membela diri. Menurut mereka, seorang agen Patroli Perbatasan terpaksa menembak setelah seorang pria mendekat dengan pistol dan melawan saat akan dilucuti.
Namun begitu, cerita itu langsung dipertanyakan. Rekaman video dari saksi mata yang berhasil diverifikasi justru menunjukkan gambaran yang berbeda. Dalam video itu, Alex Pretti terlihat memegang telepon, bukan senjata api. Saat itu, ia tampaknya sedang berusaha menolong para pengunjuk rasa lain yang sudah lebih dulu didorong ke tanah oleh para agen.
Kontras antara dua narasi itu versi resmi pemerintah dan bukti visual dari warga menjadi bahan bakar utama yang memicu demonstrasi besar-besaran. Kecaman pun bergulir dari berbagai penjuru, tak terkecuali dari selebritas Hollywood yang suaranya mampu menggema jauh lebih keras.
Artikel Terkait
Pemilu Myanmar Usai, Kemenangan Telak Dirayakan Junta di Tengah Kontroversi
Gus Ipul Soroti Data sebagai Kunci Pemberdayaan Disabilitas di HUT Pertuni
Polisi Imbau Publik Jaga Empati, Data Pribadi Lula Lahfah Jangan Disebar
Misteri Kematian Lula Lahfah: Polisi Tunggu Kunci Jawaban dari Laboratorium