"Hati-hati semangat ganbatte. Hati-hati Kak,"
Suara seorang perempuan mungkin ibu atau saudara terdengar jelas mengiringi pelukan perpisahan. Kalimat pendek itu sarat doa dan harapan, dicampur dengan sedikit kata dari bahasa Jepang yang akrab di telinga orang Indonesia.
Selain momen haru itu, orang tua Kezia juga sempat menyinggung soal status kewarganegaraan putri mereka ke depannya. Mereka tampak terbuka, meski detail pastinya tak dijelaskan panjang lebar. Yang jelas, langkah Syifa ini membuka percakapan baru. Tentang diaspora, tentang pilihan hidup, dan tentang identitas yang tak lagi hitam putih.
Video itu, singkatnya, menyentuh banyak sisi. Bukan cuma soal keluarga Indonesia yang melepas anaknya. Tapi juga tentang seorang perempuan berhijab yang memilih jalan tak biasa di negeri orang. Ceritanya mengalir natural, direkam tanpa rekayasa. Mungkin itu sebabnya, banyak yang ikut terhanyut dalam emosi yang sama.
Reaksi netizen pun beragam. Sebagian besar memberi dukungan dan apresiasi. Yang lain penasaran dengan proses dan lika-likunya. Namun begitu, satu hal yang pasti: wajah Kezia Syifa dalam seragam itu telah menjadi simbol kecil dari banyak cerita besar yang jarang terekspos.
Artikel Terkait
Polres Metro Tangerang Kota Sediakan Layanan Titip Kendaraan Gratis untuk Pemudik
KARA Raih Tiga Penghargaan Nilai Pelanggan dari Survei Konsumen di Enam Kota
Mendes PDTT Desak Pembaruan Data Tunggal untuk Pastikan Bantuan Tepat Sasaran
Kapolda Riau Dianugerahi Maklumat Hari Ekosistem Atas Komitmen Green Policing