Hutan yang Tersayat: Ketika Krisis Lingkungan Bermula dari Kekeringan Hati

- Jumat, 23 Januari 2026 | 10:10 WIB
Hutan yang Tersayat: Ketika Krisis Lingkungan Bermula dari Kekeringan Hati

Pembicaraan soal deforestasi di Indonesia selalu berkutat pada angka. Luas hutan yang lenyap, spesies yang punah, kerugian ekonomi yang membengkak. Data-data itu penting, ya, tapi rasanya tak pernah cukup untuk menggambarkan duka yang sebenarnya.

Ada satu dimensi yang kerap terabaikan: dimensi batin manusia. Menurut perspektif Green Sufism, kerusakan hutan yang kita saksikan bukan cuma soal gagalnya kebijakan atau tata kelola. Ini adalah krisis spiritual. Sebuah tanda bahwa hati manusia mengering, justru di tengah limpahan sumber daya alam.

Dalam khazanah Islam, alam semesta dipahami sebagai ayat-ayat Tuhan yang hidup. Ibn 'Arabi menyebutnya sebagai nafas kasih sayang Ilahi. Sementara Ikhwan al-Shafa melihat alam laksana saudara kembar manusia sendiri.

Nah, hutan dengan segala keheningannya, adalah ruang zikir kosmik. Ia tak berteriak, tapi bersaksi. Tak menuntut, tapi menghidupi. Maka, ketika hutan dibabat secara rakus, yang terputus bukan cuma jaringan ekologi. Relasi sakral antara manusia, Tuhan, dan semesta pun ikut tercabik.

Kita punya hutan yang bukan cuma kaya, tapi sarat makna. Lihat saja Kalimantan, yang dulu disebut paru-paru dunia, kini terfragmentasi oleh pembalakan dan tambang. Hutan hujan Papua, salah satu yang tertua di planet ini, menyimpan ribuan spesies endemik dan kosmologi masyarakat adat. Namun, ia kian terdesak.

Ekosistem Leuser di Sumatra juga tak luput. Ini satu-satunya tempat di dunia di mana gajah, harimau, badak, dan orangutan hidup berdampingan. Ia terus tergerus. Begitu pula Pegunungan Bukit Barisan dan hutan Sulawesi yang unik itu. Bagi Green Sufism, ini semua adalah amanah Ilahi, bukan sekadar aset ekonomi belaka.

Sejatinya, tasawuf sudah lama mengajarkan bahwa kerusakan lahiriah berawal dari kerusakan batin. Seperti ditegaskan Abu Hamid al-Ghazali, fondasi etika itu ada pada tazkiyat al-nafs, penyucian jiwa. Tanpa itu, nafsu akan menyamar sebagai kebutuhan; keserakahan akan mengenakan jubah rasionalitas.

Dalam konteks penggundulan hutan, nafsu itu muncul dalam narasi pembangunan sempit. Alam direduksi jadi komoditas, bukan lagi amanah yang suci.

Bagi Ibn 'Arabi, seluruh wujud adalah jejaring penampakan Ilahi. Setiap makhluk punya martabatnya sendiri. Jadi, merusak hutan berarti merusak simpul dalam jejaring sakral itu sebuah pelanggaran yang bersifat etis sekaligus spiritual. Rumi punya pesan serupa: alam berbicara, tapi hanya pada hati yang mau mendengar.

Ketika kita kehilangan kemampuan mendengar suara alam, kita bukan cuma tuli pada lingkungan. Kita menjadi tuli pada diri sendiri. Kebisuan kita melihat perusakan masif itu adalah gejala qalb yang tertutup hati yang tak lagi peka pada tanda-tanda Tuhan.

Islam menempatkan manusia sebagai khalifah, penjaga bumi. Bukan pemilik mutlak. Tapi lihatlah praktik deforestasi skala besar: peran kita bergeser dari penjaga jadi penguasa, dari amanah menjadi eksploitasi belaka.

Dalam tasawuf, pergeseran ini adalah kegagalan tawadhu kosmik. Kita lupa bahwa manusia cuma bagian kecil dari jejaring kehidupan yang maha luas. Dampaknya? Nyata dan mahal. Banjir, longsor, kabut asap, krisis air itu bukan sekadar bencana alam. Itu adalah respons ekologis atas sebuah relasi yang sudah rusak.


Halaman:

Komentar