Hutan yang Tersayat: Ketika Krisis Lingkungan Bermula dari Kekeringan Hati

- Jumat, 23 Januari 2026 | 10:10 WIB
Hutan yang Tersayat: Ketika Krisis Lingkungan Bermula dari Kekeringan Hati

Lalu, apa yang ditawarkan Green Sufism? Ini bukan romantisme spiritual. Ini kerangka etika dan praksis. Alam dilihat sebagai manifestasi cinta Ilahi, yang menghubungkan penyucian batin dengan kebijakan publik.

Setidaknya ada lima pilar utamanya.

Pertama, tazkiyat al-nafs ekologis: mendidik batin untuk menumbuhkan rasa cukup dan menahan nafsu eksploitasi.

Kedua, tawadhu kosmik dalam tata kelola: kebijakan kehutanan harus rendah hati pada daya dukung alam, mengakui hak masyarakat adat, dan menegakkan hukum secara adil.

Ketiga, ibadah ekologis: merawat hutan sebagai bagian dari penghambaan. Reboisasi bisa dimaknai sebagai zikir kolektif.

Keempat, menguatkan kearifan lokal spiritual yang telah menjaga hutan lewat kosmologi sakral selama berabad-abad.

Kelima, membangun ekonomi berjiwa sufistik, yang mempertimbangkan keberkahan, bukan cuma keuntungan jangka pendek.

Pada dasarnya, tasawuf selalu membuka jalan pulang. Taubat dalam Green Sufism adalah pertobatan ekologis sebuah upaya sadar untuk memperbaiki relasi kita dengan bumi. Ini menuntut perubahan orientasi: dari menguasai menjadi menjaga, dari mengambil menjadi merawat.

Indonesia punya modal spiritual dan ekologis yang besar untuk memimpin narasi ini. Tapi modal itu akan sia-sia tanpa keberanian etis. Kebijakan tanpa kesadaran batin akan rapuh. Teknologi tanpa etika justru melukai. Pertumbuhan tanpa makna akhirnya hampa.

Ujung-ujungnya, hutan yang pulih membutuhkan hati yang lebih dulu disuburkan. Saat hati kembali takut pada Tuhan, lembut pada ciptaan, dan rendah di hadapan semesta, menjaga hutan tak lagi terasa sebagai beban. Ia menjadi doa yang berjalan. Damai yang bekerja.

Green Sufism tak menawarkan solusi instan. Ia cuma memberi arah pulang menuju keseimbangan. Di sanalah, zikir pepohonan kembali terdengar. Sunyi, setia, dan menghidupkan kesadaran bahwa hutan adalah kitab suci kosmik. Sebuah kitab yang bukan cuma perlu disucikan, tapi juga dibaca dan dipelihara.

Bambang Irawan.
Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


Halaman:

Komentar