“Puncaknya itu kemarin pas saya sedang tidur,” ujar Rahmat mengenang. “Tiba-tiba suami saya memanggil dan bilang, katanya tanahnya geser. Hari ini semakin parah lagi.”
Bukti kerusakan parah terlihat jelas di teras rumahnya. Retakan menganga sepanjang empat meter, dengan kedalaman yang mencapai hampir setengah meter. Dia dan keluarganya kini hidup dalam ketakutan akan kemungkinan longsor susulan.
“Kerusakan cukup parah,” katanya. “Jujur kami juga khawatir akan ada longsor susulan kalau terus-terusan turun hujan seperti hujan seharian ini.”
Melihat kondisi yang makin kritis, Rahmat pun menyampaikan harapannya. Dia mendesak pemerintah dan pihak berwenang untuk segera turun tangan. Penanganan darurat mutlak diperlukan agar bencana ini tidak merembet dan menyebabkan rumah-rumah warga lainnya ambrol.
Di sisi lain, longsor ternyata tidak hanya terjadi di perumahan Kodam. Lokasi lain yang juga terdampak adalah bantaran Kali Cikadu, tepatnya di belakang pos keamanan perumahan Imanan Extension. Lokasinya tak jauh, hanya berjarak ratusan meter dari kompleks Kodam. Di sana, tanah terus tergerus aliran air, mengakibatkan kerusakan yang juga signifikan.
Artikel Terkait
Terdakwa Impor LNG: Saya Cuma Korban Perseteruan di Puncak Pertamina
Aceh Perpanjang Masa Darurat Bencana untuk Keempat Kalinya
Ahok Diperiksa sebagai Saksi Kunci Kasus Korupsi Minyak Rugikan Negara Rp285 Triliun
Arcandra di Sidang Korupsi Minyak: Impor Kilang dan BBM Masih Tak Terhindarkan