Prabowo Ingatkan Forum Davos: Kemakmuran Takkan Lahir dari Medan Perang

- Kamis, 22 Januari 2026 | 21:20 WIB
Prabowo Ingatkan Forum Davos: Kemakmuran Takkan Lahir dari Medan Perang
Pidato Prabowo di Davos: Tanpa Perdamaian, Kemakmuran Hanya Mimpi

Pidato Prabowo di Davos: Tanpa Perdamaian, Kemakmuran Hanya Mimpi

Davos, Swiss, kembali menjadi pusat perhatian dunia. Di tengah hawa dingin pegunungan Alpen, para pemimpin global berkumpul dalam World Economic Forum (WEF) yang digelar Kamis lalu. Salah satu suara yang menarik perhatian datang dari Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, yang hadir sebagai pembicara kunci.

Panggungnya bukan tempat biasa. Di hadapan para elite ekonomi dan politik dunia, Prabowo membuka pidatonya dengan gambaran suram tentang kondisi global. Dunia kita, ujarnya, sedang terombang-ambing dalam lautan ketidakpastian. Perang berkecamuk di beberapa titik, sementara rasa saling percaya antar bangsa dan lembaga terus menipis.

"Di masa penuh ketidakpastian, masa ketika perang terus meletus, masa ketidakpercayaan. Antar bangsa, antar lembaga, antar masyarakat,"

Suasana ruang sidang tentu serius. Namun begitu, Prabowo lantas mengajak hadirin melihat ke belakang. Pelajaran sejarah, menurutnya, jelas dan tegas. Kedamaian dan stabilitas bukanlah barang mewah, melainkan aset paling berharga yang dimiliki peradaban. Tanpa keduanya, segalanya jadi rapuh.

"Itu rapuh, sejarah mengajarkan kita. Perdamaian dan stabilitas adalah aset paling berharga. Kedamaian dan stabilitas adalah prasyarat utama bagi kemajuan besar,"

Argumennya kemudian mengerucut. Intinya sederhana tapi mendasar: mustahil membangun kemakmuran di atas puing-puing konflik. Perdamaian bukan sekadar tujuan akhir, melainkan fondasi yang harus ditegakkan pertama kali. Tanpa fondasi itu, segala cita-cita tentang pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan hanyalah ilusi.

"Kemudian kemakmuran," tegasnya, "tidak akan ada kemakmuran tanpa perdamaian."

Poinnya jelas. Di forum yang kerap membahas angka pertumbuhan dan inovasi teknologi, Prabowo justru menekankan prasyarat paling mendasar. Seolah mengingatkan, sebelum membicarakan masa depan yang gemilang, dunia perlu lebih dulu merajut perdamaian yang kini mulai retak.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar