Kajian Politik Merah Putih: Analisis Ancaman Oligarki dan Sikap Presiden
MURIANETWORK.COM Koordinator Kajian Politik Merah Putih, Sutoyo, menyatakan keprihatinan mendalam terhadap kondisi bangsa. Ia menggambarkan situasi saat ini sebagai bentuk penjajahan gaya baru yang dilakukan oleh bangsanya sendiri, yang dinilai semakin arogan, sadis, dan menindas rakyat Indonesia, khususnya kaum pribumi.
Perlawanan Fisik Sebagai Opsi Terakhir
Menurut Sutoyo, dalam keterangannya pada Ahad (9/11/2025), tidak ada jalan alternatif lain selain perlawanan fisik. Jika perlawanan langsung tidak memungkinkan, maka perang gerilya disebut sebagai pilihan terakhir. Ia memperingatkan bahwa rezim oligarki akan menumpas perlawanan tersebut dengan dalih menumpas makar, padahal menurutnya, rezim itulah yang sebenarnya melakukan makar terhadap kedaulatan negara.
Hambatan Utama Perlawanan Rakyat
Sutoyo menguraikan beberapa faktor yang menyulitkan terwujudnya perlawanan fisik saat ini:
- Masyarakat yang mudah dilumpuhkan dengan pemberian uang (angpao).
- Negara yang telah dikuasai oleh pemilik modal besar atau oligarki.
- Kekuatan rakyat yang terpecah belah akibat tekanan untuk mempertahankan hidup.
- Para pejabat negara yang terjebak dalam pola hidup "enjoy life" dan telah menjadi bagian dari sistem oligarki dari pusat hingga daerah.
Ia menambahkan bahwa konsolidasi kekuatan rakyat masih sangat berat. Tantangan lainnya adalah belum munculnya pemimpin pergerakan yang berani dengan tekad baja untuk membela rakyat tertindas, serta tidak adanya logistik yang memadai untuk mendukung perlawanan.
Pidato Presiden dan Dukungan pada Oligarki
Sutoyo menilai penderitaan rakyat justru diperparah oleh pidato Presiden yang dianggapnya hanya omong kosong. Terdapat sinyal kuat bahwa Presiden akan membela dan mengamankan program-program oligarki, termasuk menjadi tameng untuk kelanjutan program PIK 1 sampai 11.
Dampak Jangka Panjang Oligarki
Diungkapkannya, praktik perampasan dan pengurasan tanah rakyat, laut, serta sumber daya alam akan terus berlangsung. Jika tidak dihentikan, hal ini akan berlanjut hingga sumber kekayaan alam habis, yang pada akhirnya berpotensi mengarah pada pembubaran Indonesia.
Artikel Terkait
Pemkot Makassar Resmi Terima Hibah Lahan 8.188 M² dari PIP untuk Pengembangan Stadion Untia
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,738 Juta per Gram, Buyback Tak Bergerak
Biota Group Matangkan Konsep Umrah Akbar Carter Satu Pesawat Lewat Forum Koordinasi Mitra
Polisi Selidiki Pembobolan Toko Ayam Krispi di Makassar, Kerugian Capai Rp9 Juta