"Diam berarti membiarkan kemanusiaan terus tergerus. Solidaritas untuk rakyat Palestina ini lebih dari politik; ini tanggung jawab moral kita bersama. Agar nilai-nilai kemanusiaan tetap hidup, meski di tengah konflik dan kekerasan yang tak berkesudahan," paparnya.
Insiden yang memicu kemarahan ini terjadi sehari sebelumnya. Israel mengerahkan buldoser-buldoser untuk meratakan bangunan di kompleks UNRWA di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur. Aksi itu langsung menuai kutukan keras dari PBB.
Melalui juru bicaranya, Farhan Haq, Sekjen PBB Antonio Guterres mendesak Israel agar segera menghentikan pembongkaran itu.
"Sekretaris Jenderal mendesak pemerintah Israel untuk segera menghentikan pembongkaran kompleks UNRWA Sheikh Jarrah, dan untuk mengembalikan serta memulihkan kompleks tersebut dan tempat-tempat UNRWA lainnya kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa tanpa penundaan," kata Haq.
Guterres menegaskan bahwa markas UNRWA seharusnya kebal dan tidak bisa diganggu gugat. Namun, Israel punya alasan lain. Mereka berulang kali menuduh UNRWA memberi perlindungan kepada militan Hamas. Bahkan, beberapa staf UNRWA dituding terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023. Tuduhan itu menjadi pembenaran bagi langkah-langkah keras mereka, meski menuai protes dari berbagai penjuru.
Artikel Terkait
Bekasi Masih Terendam, Sembilan Titik Genangan Belum Surut
Longsor di Jalur Maja-Tigaraksa, Layanan KRL Green Line Terganggu
Buaya Lisa Berkeliaran di Belakang SMA 5 Depok, Sekolah Minta Evakuasi
Suara dari Bawah Reruntuhan: Longsor Terjang Perkemahan di Selandia Baru