Di sisi lain, cerita datang dari Tata, warga Matraman yang berusia 20 tahun. Pengalamannya bahkan lebih berat. Bukan cuma berurusan dengan hujan yang tak kunjung reda, tapi juga dengan genangan air yang masuk ke tempat tinggal dan ruang kerjanya.
"Dari rumah sampai kantor, hujannya terus-terusan. Di kantor sempat banjir, meski cuma setinggi mata kaki. Tapi kalau di rumah, airnya nyampe hampir sebetis. Itu sih yang bikin repot, kerja jadi double karena harus bersih-bersih usir banjir," tutur Tata.
Dampaknya beruntun. Tata bercerita bahwa hujan yang terus-menerus itu sempat membuatnya jatuh sakit. Belum lagi waktu yang sering terbuang percuma. "Baru kemarin aku sakit, sekarang alhamdulillah sudah mendingan. Lalu, kalau hujan lagi deras-derasnya, mau naik kereta atau ojol kan harus nunggu dulu. Jadinya ya telat, waktu banyak terbuang," terangnya.
Namun begitu, ia punya siasat sendiri. Strategi sederhana untuk bertahan. "Aku sih usahain pakai jaket tebal, terus bawa payung atau jas hujan di tas. Itu wajib," imbuhnya.
Harapannya sederhana. "Semoga aja cuaca nggak makin parah, tapi malah membaik ke depannya."
Artikel Terkait
Derasnya Hujan, Derasnya Perjuangan: Kisah Para Pekerja yang Bertaruh dengan Banjir
Gelombang WNI Buru-Buru Pulang dari Kamboja Usai Razia Sindikat Scam
Tiga Tersangka Kuasai 270 Hektare Sawit Ilegal di Tesso Nilo
Prabowo Temui Raja Charles III di London Bahas Konservasi Gajah Sumatera