"Selama bertahun-tahun, para pendukung terorisme ini berada di sini. Hari ini mereka disingkirkan. Inilah yang akan terjadi pada setiap pendukung terorisme," tambahnya tanpa tedeng aling-aling.
Namun begitu, dari markas PBB di New York, respons datang dengan nada sangat berbeda. Sekretaris Jenderal Antonio Guterres mendesak Israel agar segera menghentikan pembongkaran itu. Melalui juru bicaranya, Farhan Haq, Guterres menegaskan kompleks UNRWA di Sheikh Jarrah adalah wilayah yang kebal dan tak bisa diganggu-gugat.
"Sekretaris Jenderal mendesak pemerintah Israel untuk segera menghentikan pembongkaran, dan untuk mengembalikan serta memulihkan kompleks tersebut kepada PBB tanpa penundaan," kata Haq kepada para wartawan.
Latar belakang ketegangan ini, seperti sering disuarakan Israel, adalah tuduhan bahwa UNRWA memberi perlindungan kepada militan Hamas. Israel berulang kali menuding beberapa staf agensi PBB itu terlibat dalam serangan 7 Oktober lalu yang memicu perang di Gaza. Tuduhan yang selalu dibantah keras oleh UNRWA.
Kini, di tengah reruntuhan di Yerusalem Timur, yang tersisa adalah ketegangan diplomatik yang makin memanas dan pertanyaan tentang seberapa jauh kekebalan lembaga internasional benar-benar dihormati.
Artikel Terkait
Suami Gelap Mata, Gorok Leher Istri di Malam Minggu Bogor
Mendagri Tito Karnavian Buka Kantor Promosi Investasi di Batam, Bidik Pasar Singapura
Tito Karnavian Tutup Rakernas APKASI, Soroti Semangat Prabowo untuk Daerah
Kemhan Tegaskan: Jadwal Kedatangan Rafale Masih Tentatif