Kembali ke rencana pembukaan cabang, Nasaruddin punya argumen yang menarik. Menurutnya, langkah ini bisa jadi solusi brilian bagi mahasiswa Asia Tenggara.
“Sudah waktunya Al-Azhar itu dibantu dengan membuka cabang di Indonesia, sehingga anak-anak Asia Tenggara tidak perlu ke Mesir. Cukup ke Indonesia, sementara dosen-dosen Al-Azhar dan fasilitas pembelajarannya disiapkan di sini,”
ujarnya dengan semangat.
Logikanya sederhana: selama ini calon mahasiswa dari kawasan ini harus terbang jauh, menghadapi perbedaan budaya dan biaya yang tidak sedikit. Dengan hadirnya kampus cabang di Indonesia, akses untuk belajar di bawah bendera Al-Azhar akan terbuka lebih lebar. Mereka cukup datang ke Indonesia. Gagasannya memang ambisius, tapi jika terwujud, dampaknya bagi dunia pendidikan tinggi Islam di regional bisa sangat signifikan.
Artikel Terkait
AS Pertimbangkan Relokasi Rudal Patriot dari Korea Selatan ke Timur Tengah
Kapal Tenggelam di Muara Pomako, Semua Penumpang Selamat Berkat Evakuasi Warga
Warga Teheran Borong Sembako dan Hadapi Kelangkaan di Tengah Eskalasi Konflik
Indonesia Tegur Meta Gagal Kendalikan Judi Online dan Disinformasi