Kembali ke rencana pembukaan cabang, Nasaruddin punya argumen yang menarik. Menurutnya, langkah ini bisa jadi solusi brilian bagi mahasiswa Asia Tenggara.
“Sudah waktunya Al-Azhar itu dibantu dengan membuka cabang di Indonesia, sehingga anak-anak Asia Tenggara tidak perlu ke Mesir. Cukup ke Indonesia, sementara dosen-dosen Al-Azhar dan fasilitas pembelajarannya disiapkan di sini,”
ujarnya dengan semangat.
Logikanya sederhana: selama ini calon mahasiswa dari kawasan ini harus terbang jauh, menghadapi perbedaan budaya dan biaya yang tidak sedikit. Dengan hadirnya kampus cabang di Indonesia, akses untuk belajar di bawah bendera Al-Azhar akan terbuka lebih lebar. Mereka cukup datang ke Indonesia. Gagasannya memang ambisius, tapi jika terwujud, dampaknya bagi dunia pendidikan tinggi Islam di regional bisa sangat signifikan.
Artikel Terkait
Partai Hijau Riau Dorong Perda Khusus untuk Lindungi Ekosistem
Demokrasi Cacat, Peringkat ke-59: Alarm untuk Merawat Pemilu dan Harapan Rakyat
Tangsel Bakal Diguyur Lebih Deras, Sebagian Besar Jabodetabek Hujan Ringan
Janji Penjualan Rumah dan Angkot Rusak: Seorang Ayah Tewas Dibunuh Anaknya di Tangerang