Allano Persija Puncaki Daftar Pemain dengan Kartu Kuning Terbanyak di I.League

- Jumat, 06 Maret 2026 | 17:30 WIB
Allano Persija Puncaki Daftar Pemain dengan Kartu Kuning Terbanyak di I.League
Super League 2025/2026: Dua Pemain Kunci yang Tak Tergantikan

Sepak bola modern memang mengagungkan kerja kolektif. Tapi coba lihat lebih dalam, ada kalanya satu sosok punya pengaruh begitu kuat. Saat dia absen, tim langsung terasa ada yang kosong. Seperti ada lubang di tengah struktur yang sudah rapi. Di Super League musim ini, dua pemain Brasil itu contohnya: Allano Lima dari Persija dan Victor Luiz dari PSM Makassar.

Posisi mereka berbeda jauh. Allano, winger kanan yang mengandakan kecepatan dan duel satu lawan satu. Dia penghidup serangan di sepertiga akhir lapangan. Sementara Victor Luiz, bek kiri yang gaya mainnya modern. Tak cuma jago bertahan, dia juga jadi motor serangan lewat sisi kiri.

Namun begitu, keduanya punya satu benang merah yang sama. Ketika mereka tak turun, permainan timnya langsung pincang. Rasanya ada yang hilang.

Bicara soal Allano, bagi Persija dia adalah sumber energi. Saat serangan macet, dialah yang kerap membuka jalan. Dribelnya cepat, berani hadapi bek lawan. Dalam laga-laga ketat, dia sering jadi pembeda.

Tapi musim ini, sorotan justru datang dari hal lain: kartu kuning.

Data I.League per 5 Maret mencatat, Allano sudah mengumpulkan 12 kartu kuning. Itu yang terbanyak di liga. Cukup mengejutkan, mengingat posisinya sebagai pemain sayap ofensif biasanya bukan tipe yang gemar melanggar.

Yang menarik, Persija sendiri bukan tim paling kasar. Bhayangkara Presisi Lampung FC memimpin daftar dengan 77 kartu kuning, diikuti PSM Makassar (71). Persija di bawahnya dengan 67.

Tapi di level individu, nama Allano tetap yang paling mencolok.

Di belakangnya, ada striker Persijap Jepara Carlos Franca dan gelandang Dewa United Ricky Kambuaya, masing-masing sembilan kartu. Lalu ada bek Persis Solo Jose Cleylton dan bek kiri PSIM Jogja Reva Adi Utama, sama-sama delapan.

Ini jadi potret ganjil buat Allano. Dia dikenal kreatif dan cepat, bukan pemain keras. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?

Memang, sebagian kartu datang dari luapan emosi. Tapi bagi Allano, ceritanya lebih rumit dari sekadar soal disiplin.

"Saya bukan orang suci. Saya manusia biasa," tulisnya di Instagram @allanolima07 pada 25 Februari lalu.

Ungkapan itu bukan cuma pembelaan. Ada kegelisahan di baliknya. Pemain kelahiran Rio de Janeiro, 24 April 1995 ini merasa, kejadian yang berulang telah menciptakan stereotip tertentu terhadap dirinya di lapangan hijau.

"Apa yang berulang kali terjadi sangat menakutkan bagi saya. Apa pun yang saya lakukan, saya dihukum dengan kartu kuning," tulisnya lagi.

Lebih dari sepuluh tahun jadi pesepakbola profesional, ia mengaku belum pernah mengalami hal seperti ini. Di klub-klub sebelumnya, kartu kuning tak pernah sebanyak sekarang.

"Ini sangat membuat frustrasi. Saya bekerja keras untuk menikmati setiap pertandingan. Bahkan ketika saya dilanggar, justru saya yang mendapat kartu," lanjutnya.

Kegelisahan itu kemudian menyentuh hal yang lebih sensitif. Allano merasa perlakuan yang ia terima tak selalu murni soal tindakan di lapangan.

"Mungkin jika kulit saya berwarna putih, saya tidak akan diperlakukan seperti ini," katanya.

Kalimat itu terasa pedih. Ia merasa pemain berkulit hitam seringkali memikul beban yang lebih berat.

"Bagi orang kulit hitam, segalanya lebih sulit, dan itu nyata," ujarnya.

Di luar semua kontroversi itu, kontribusinya untuk Persija tetap tak bisa dianggap remeh. Dari 21 laga, enam gol dan tujuh assist sudah ia catat. Angka itu menunjukkan betapa vital perannya di lini depan Macan Kemayoran.

Pelatih Mauricio Souza juga mengakui situasi ini. Tim pelatih sudah beberapa kali mengingatkan Allano untuk lebih bisa mengendalikan emosi.

"Kami sudah berbicara dengannya agar bisa mengontrol diri. Dia punya energi luar biasa dan selalu ingin memberikan yang terbaik," kata Mauricio.

Tapi emosi itu kembali muncul. Saat lawan Borneo FC di JIS, 3 Maret lalu, Allano kembali dapat kartu kuning.

Akibatnya, ia dipastikan absen saat Persija menjamu Dewa United tanggal 15 Maret nanti.

Bagi Persija, ini bukan cuma kehilangan satu pemain. Ini kehilangan sumber kreativitas di sisi kanan. Pengaruhnya bisa langsung terasa.

Di sisi lain, nasib serupa dialami PSM. Coba lihat bek kiri mereka, Victor Luiz. Saat dia kena hukuman larangan tampil, keseimbangan Juku Eja langsung berantakan.

Tanpa sang bek Brasil itu, PSM kehilangan penghubung vital antara pertahanan dan serangan. Beberapa laga terakhir tanpa dirinya, performa tim pun ikut melorot.

Fenomena ini menunjukkan satu hal: pengaruh pemain Brasil di Super League masih sangat besar. Mereka yang menentukan wajah permainan.

Dan ketika dua nama kunci Allano dan Victor hilang dari lapangan, dampaknya langsung terasa. Bukan cuma di statistik, tapi di seluruh ritme permainan tim.

Memang, satu pemain tak bisa menggantikan seluruh sistem. Tapi kadang, dialah bagian yang membuat sistem itu tetap bernyawa.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar