Peru Gelar Pemilu Presiden di Tengah Krisis Politik dan Lonjakan Kejahatan

- Minggu, 07 Juni 2026 | 20:50 WIB
Peru Gelar Pemilu Presiden di Tengah Krisis Politik dan Lonjakan Kejahatan

Peru akan menggelar pemilihan presiden pada Minggu pekan ini, sebuah momentum yang diprediksi akan melahirkan presiden kesembilan dalam satu dekade terakhir. Pemungutan suara putaran kedua yang berlangsung ketat itu akan mempertemukan dua kandidat dengan latar belakang dan visi yang bertolak belakang, di tengah keresahan publik terhadap ketidakstabilan politik dan lonjakan angka kejahatan.

Sekitar 27 juta warga negara yang terdaftar sebagai pemilih berhak menggunakan suaranya untuk menentukan pemimpin nasional untuk masa jabatan lima tahun ke depan. Dua nama yang akan bersaing adalah Roberto Sanchez dari kubu sosialis demokrat dan Keiko Fujimori yang mewakili kubu neoliberal. Keduanya harus merebut hati pemilih setelah melalui putaran pertama yang diikuti oleh 35 kandidat, di mana Fujimori hanya mengantongi 17 persen suara dan Sanchez memperoleh sekitar 12 persen.

Fujimori, yang merupakan putri dari mantan Presiden otokratis Alberto Fujimori, maju untuk keempat kalinya dalam kontestasi kepresidenan. Ia mengusung pendekatan keamanan garis keras yang mencakup penerapan hukuman penjara yang lebih ketat serta pengerahan personel militer untuk menekan angka kriminalitas. Sementara itu, Sanchez yang saat ini menjabat sebagai anggota kongres dan mantan menteri, mendapat dukungan dari mantan Presiden Pedro Castillo. Ia berjanji menjaga stabilitas ekonomi sembari memberantas praktik korupsi di pemerintahan.

Namun, kampanye Sanchez tidak sepenuhnya berjalan mulus. Pada Jumat lalu, seorang hakim memutuskan bahwa ia dapat diadili atas dugaan pelanggaran pendanaan kampanye. Jaksa menuding politisi tersebut melakukan inkonsistensi dalam laporan keuangan partainya, termasuk menerima puluhan ribu dolar dalam bentuk sumbangan yang tidak dilaporkan. Sanchez membantah seluruh tuduhan tersebut.

Pemilu kali ini menjadi babak baru dalam kekacauan politik yang telah melanda Peru selama bertahun-tahun. Sejak 2016, negara itu telah dipimpin oleh delapan presiden yang silih berganti, sebagian besar karena krisis politik dan proses pemakzulan. Mereka adalah Pedro Pablo Kuczynski (2016–2018), Martin Vizcarra (2018–2020), Manuel Merino (10–15 November 2020), Francisco Sagasti (2020–2021), Pedro Castillo (2021–2022), Dina Boluarte (2022–2025), Jose Jeri (Oktober 2025–Februari 2026), dan Jose Maria Balcazar yang menjabat sejak Februari 2026 hingga kini.

Di tengah situasi yang tidak menentu, tidak satu pun kandidat dalam pemilu kali ini yang berhasil mengamankan mayoritas kursi legislatif. Kondisi ini meningkatkan potensi berlanjutnya ketidakstabilan politik setelah pemungutan suara usai. Pemenang pemilu nantinya akan menggantikan presiden sementara Jose Maria Balcazar pada 28 Juli mendatang.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar