Warga Teheran Borong Sembako dan Hadapi Kelangkaan di Tengah Eskalasi Konflik

- Jumat, 06 Maret 2026 | 17:30 WIB
Warga Teheran Borong Sembako dan Hadapi Kelangkaan di Tengah Eskalasi Konflik

Suara ledakan masih menggema di Teheran. Di tengah dentuman itu, rasa was-was warga justru beralih ke rak-rak toko yang mulai menipis. Banyak yang memilih menimbun sembako, khawatir serangan AS-Israel ini bakal berlarut-larut.

Kekhawatiran itu nyata. Beberapa warga yang masih bisa mengakses internet meski dengan susah payah mengatakan pada BBC Persia, mereka takut stok bahan makanan bakal langka. Apalagi harganya sudah meroket sejak sebelum konflik. “Kami harus menyetok,” ujar Nasrin, seorang penduduk Teheran. “Kami tidak tahu berapa lama ini akan berlangsung.”

Dia menambahkan, “Kami khawatir akan kehabisan kebutuhan pokok jika tidak bersiap dari sekarang.”

Sebenarnya, tekanan hidup di Iran sudah memuncak sejak lama. Harga-harga melambung, dipicu sanksi internasional dan situasi dalam negeri. Desember lalu, gelombang protes nasional bahkan berakhir dengan represi brutal. Ribuan demonstran dilaporkan menjadi korban.

Nah, serangan dalam beberapa hari terakhir ini jelas memperburuk segalanya.

Pouyo, warga Teheran lain, memberi contoh konkret. “Saya baru saja mengecek, beras sekarang 625 toman. Padahal sebelum perang 530 toman,” katanya. Menurutnya, kentang adalah salah satu barang yang kenaikannya paling terasa.

Pemerintah sendiri sudah bereaksi. Kantor berita resmi melaporkan larangan ekspor semua produk pangan dan pertanian. Alasannya, untuk memprioritaskan pasokan dalam negeri. Tapi langkah itu belum cukup meredakan kepanikan.

Yang makin sulit, akses informasi juga terhambat. Organisasi berita internasional kerap ditolak visanya, jadi pelaporan dari dalam Iran memang terbatas. Ditambah lagi, internet diblokir. Shayan, dari Kota Karaj, mengeluh betapa sulitnya terhubung. “Harga paket internet Starlink naik luar biasa,” ucapnya.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar