2026: Ketika Dunia Bergejolak, Indonesia Berbenah di Tengah Perang Sumber Daya

- Sabtu, 17 Januari 2026 | 21:55 WIB
2026: Ketika Dunia Bergejolak, Indonesia Berbenah di Tengah Perang Sumber Daya

Sejak awal pemerintahannya, Presiden telah menegaskan arah kebijakan ini. Dalam pidato pertamanya usai dilantik pada 20 Oktober 2024 di Gedung Nusantara, Jakarta, ia menyampaikan komitmen kuat Indonesia untuk menuju swasembada pangan dan energi.

Komitmen ini lahir dari kesadaran bahwa dunia ke depan makin kompetitif dan penuh risiko. Sebagai ahli strategi militer, Prabowo memang sejak lama memberi perhatian penuh pada isu ketahanan pangan dan energi sebagai kebijakan strategis. Sebab, negara yang bisa memberi makan rakyatnya sendiri akan jauh lebih tangguh menghadapi tekanan global, sanksi ekonomi, atau gangguan rantai pasok.

Tak hanya itu, pemanfaatan sumber daya strategis juga diarahkan agar tak lagi sekadar diekspor dalam bentuk mentah. Hilirisasi, industrialisasi berbasis sumber daya domestik, dan penguatan industri strategis adalah upaya untuk menciptakan nilai tambah dan memperkokoh fondasi ekonomi nasional.

Sebuah Pekerjaan Bersama

Tapi, kebijakan pemerintah saja tidak akan cukup. Ketahanan nasional bukan cuma urusan elite di Jakarta, melainkan kerja kolektif seluruh elemen masyarakat. Dukungan pada produk dalam negeri, kesadaran akan pentingnya kemandirian, serta sikap rasional dalam membaca dinamika global adalah kontribusi nyata setiap warga.

Di tengah perbedaan pandangan politik dan hiruk-pikuk demokrasi, sebenarnya ada satu hal yang harusnya menyatukan kita: kepentingan nasional. Di dunia yang bergejolak ini, Indonesia tak boleh kehilangan fokus untuk memperkuat ketahanannya. Maka, seluruh energi bangsa sebaiknya dikerahkan untuk mendukung program strategis pemerintah ini secara berkelanjutan.

Sejarawan Yunani Thucydides pernah mengingatkan, bahwa pihak yang kuat melakukan apa yang mereka mampu, sementara yang lemah menerima apa yang harus mereka tanggung. Bangsa yang tak punya kekuatan dan persiapan memadai akan tergilas. Ini harus jadi peringatan untuk kita semua.

Dalam tatanan global yang keras dan penuh kompetisi, hanya negara kuat yang bisa menentukan nasibnya sendiri. Indonesia tak boleh berada di posisi lemah. Dunia mungkin di luar kendali kita, tetapi ketahanan nasional justru ada dalam genggaman kita sendiri.

Memasuki 2026, ini saatnya kita bergegas. Memperkuat agenda strategis bangsa untuk menghadapi risiko geopolitik yang sudah nyata di depan mata. Memperkuat ketahanan nasional, khususnya pada sumber daya strategis, bukan lagi sekadar pilihan. Ini adalah sebuah keharusan.

Dr Endang Tirtana

Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia


Halaman:

Komentar