Rencana impor bioetanol dari Amerika Serikat akhirnya mendapat penjelasan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan, langkah ini semata-mata untuk menutupi kekurangan pasokan dalam negeri. "Logikanya sederhana," ujarnya. "Kalau produksi kita cuma 10, sementara kebutuhan kita 20, ya kekurangan 10 itu bisa diimpor. Amerika salah satu opsi kita."
Pernyataan itu disampaikan Bahlil usai konferensi pers di kantornya, Selasa (3/3), yang membahas situasi Timur Tengah dan dampaknya ke sektor energi.
Nah, soal teknisnya, Bahlil punya syarat ketat. Bioetanol yang diimpor dari AS harus punya kadar 99,9 persen. Kenapa harus setinggi itu? Tujuannya jelas: biar nggak ada debat kusir. Sebab, etanol ini nantinya akan dicampurkan ke dalam bahan bakar minyak (BBM). Spesifikasi tinggi diperlukan agar kualitas BBM tetap terjaga.
Selain untuk BBM, etanol impor itu juga bisa dipakai buat keperluan lain. Misalnya, industri kosmetik atau manufaktur. Tapi untuk kebutuhan yang satu ini, Bahlil lebih longgar. Spesifikasinya diserahkan sepenuhnya ke pabrik yang bakal memakainya.
"Ya itu kan tergantung sama pabriknya. Mereka sendiri yang lebih tahu kebutuhan industrinya seperti apa," kata Bahlil.
Artikel Terkait
Jawa Tengah Lantik 164 Kepala Sekolah dan 3.035 PNS Baru untuk Perkuat Mutu Pendidikan
KPK Minta Hakim Tolak Praperadilan dan Pertahankan Status Tersangka Yaqut
Iran Ancam Balas Serangan AS-Israel Usai Klaim Kematian Khamenei dan Ratusan Korban Sipil
Menlu: Presiden Prabowo Telpon Pemimpin Teluk, Indonesia Tawarkan Mediasi