Di sisi lain, sang guru, Aziz, mengungkapkan bahwa Kiendra sebenarnya punya modal dasar. Hanya saja, butuh ruang untuk mempraktikkannya. “Kiendra punya modal bahasa Inggris tapi sulit untuk practice sederhana sehari-hari,” kata Aziz, yang pernah tinggal di Melbourne.
Usai acara, Kiendra bahkan mendapat kesempatan berbincang langsung dengan Presiden. Perasaannya campur aduk.
Kini, kepercayaan dirinya melonjak. Di sekolah, dia bahkan aktif di bidang kehumasan OSIS. Orang tuanya pun tak henti-hentinya merasa bangga.
Mimpi Kiendra ke depan jelas: belajar tekun, lanjut ke jenjang yang lebih tinggi, dan suatu hari nanti berkuliah di luar negeri untuk menjadi animator profesional. Dia juga berharap program Sekolah Rakyat ini terus berjalan, agar lebih banyak anak dari keluarga kurang mampu yang terbantu.
Dan tentang beasiswa yang dijanjikan? Presiden menyampaikannya langsung di depan forum.
Sebuah janji yang mengubah segalanya, berawal dari sebuah pidato dan keberanian seorang anak dari keluarga sederhana.
Artikel Terkait
Polisi Siaga Penuh di Titik Rawan Macet Pekanbaru Selama Libur Panjang
Delegasi AS ke Denmark: Kunjungan Damai Usai Polemik Pembelian Greenland
Titik Api di Lereng Gunung Maros Jadi Fokus Pencarian Pesawat IAT yang Hilang Kontak
Damai di Parung: Kasus Pengeroyokan di Kafe Karaoke Berakhir dengan Restorative Justice