Sementara itu, dari sisi penggagas, Poppy Dharsono punya harapan besar. Ia ingin produk kulit Garut bisa menjadi "tuan rumah" di negeri sendiri. Menurutnya, pasar dalam negeri yang sangat besar patut jadi fokus utama, meski ekspor tetap jadi tujuan.
"Oleh karena itu, Koperasi Kulit Artisan Indonesia terus memberikan pendampingan dan pelatihan bagi para perajin atau artisan di Garut, sehingga mampu meningkatkan kualitas produknya," kata Poppy.
Ia menegaskan, peningkatan kualitas itu tidak serta-merta membuat harga melambung. Produk kulit Garut dijamin tetap terjangkau.
Di kesempatan yang sama, Wakil Bupati Luthfianisa Putri Karlina atau yang akrab disapa Putri juga menyoroti kemajuan Piazza Firenze. Ia menyebut tempat ini telah menjadi ikon dan etalase kebanggaan Kabupaten Garut.
"Meski baru berusia satu tahun, Piazza Firenze sudah mampu berjalan dengan baik," kata Putri.
Menurutnya, destinasi ini kini banyak dikunjungi wisatawan, terutama dari Jakarta, yang khusus datang untuk berbelanja produk kulit. "Saya harap ke depan, produk-produknya bisa dikemas lebih premium dengan kualitas yang juga premium," ucapnya.
Putri menegaskan, industri kulit seperti ini bisa menjadi pendukung yang kuat bagi sektor pariwisata Garut secara keseluruhan. Sinergi antara keduanya, jika dikelola dengan baik, akan membawa manfaat yang jauh lebih besar bagi perekonomian daerah.
Artikel Terkait
Banjir Pandeglang Surut, Warga Keluhkan Krisis Logistik dan Air Bersih
Kominfo Soroti Akar Masalah Keamanan Siber: Sistem Tua dan Kelalaian Manusia
MKGR Resmi Umumkan Susunan Baru, 250 Pengurus Siap Kawal Agenda Pemerintah
Tokyo Lumpuh: Ratusan Ribu Komuter Terjebak Akibat Padamnya Jalur Kereta Utama