Perdebatan soal efektivitas belanja negara, terutama di sektor pendidikan, memang tak ada habisnya. Tapi ada satu hal yang kerap luput: sekolah itu bukan cuma tempat belajar. Ia juga bisa jadi simpul ekonomi lokal. Nah, kajian terbaru LP3ES menegaskan hal itu. Mereka menemukan, program revitalisasi sekolah ternyata berdampak nyata pada peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi. Temuan ini penting banget, apalagi di tengah desakan agar setiap rupiah dari APBN dan APBD punya manfaat berlapis tak cuma sosial, tapi juga ekonomi.
Jadi, anggaran yang dikucurkan buat bangun atau perbaiki sekolah, dampaknya nggak berhenti di tembok baru atau atap yang sudah diganti. Uang itu merembes. Ke warung material, ke tukang bangunan, ke pengrajin lokal, sampai ke UMKM di sekitarnya. Inilah yang disebut efek pengganda ekonomi.
Pertanyaannya, apa revitalisasi sekolah cuma proyek fisik belaka? Atau jangan-jangan, ini sebenarnya instrumen kebijakan ekonomi yang cukup strategis buat daerah? Bagaimana sih mekanisme efek pengganda itu bekerja, dan apa implikasinya buat kebijakan ke depan?
Selama ini, pemahaman kita sering sempit. Revitalisasi sekolah ya cuma dilihat sebagai perbaikan gedung rusak, nambah ruang kelas, atau tingkatkan fasilitas. Memang nggak salah sih, mengingat banyak sekolah di daerah yang kondisinya memprihatinkan. Tapi, pendekatan yang terlalu teknokratis bikin kita lupa. Setiap proyek fisik pendidikan itu sebenarnya juga proyek ekonomi.
Bayangin aja, revitalisasi itu melibatkan rantai panjang: dari perencanaan, pengadaan bahan, rekrut tenaga kerja, distribusi, sampe urusan konsumsi harian para pekerjanya. Di titik inilah, belanja negara untuk pendidikan berubah wujud jadi stimulus buat ekonomi lokal.
Kajian LP3ES menangkap fenomena ini dengan cukup tajam. Program mereka teliti tidak cuma meningkatkan kualitas layanan pendidikan, tapi juga menggerakkan ekonomi daerah. Sektor-sektor yang jadi tulang punggung ekonomi rakyat seperti toko bangunan, jasa konstruksi kecil, dan UMKM pendukung ikut dapat angin segar.
Secara teori, efek pengganda itu sederhana. Satu unit pengeluaran awal bisa menghasilkan peningkatan pendapatan regional yang lebih besar dari nilai awalnya. Uangnya nggak mandek di satu titik, tapi berputar dan ciptakan aktivitas lanjutan.
Ambil contoh konkret. Saat pemerintah alokasikan anggaran buat renovasi sekolah, dananya pertama diterima kontraktor. Lalu, dana itu dibelanjakan: beli bahan bangunan di toko lokal, bayar upah pekerja, sewa alat, dan beli jasa lain. Para pekerja yang dapet upah itu kemudian belanjakan lagi penghasilannya untuk kebutuhan sehari-hari makanan, transport, kebutuhan rumah tangga. UMKM di sekitar sekolah pun kebagian rezeki. Uang berputar makin luas, dorong pertumbuhan, dan akhirnya tercermin dalam angka PDRB.
Nah, temuan LP3ES ini memberikan bukti empiris yang kita butuhkan. Revitalisasi sekolah terbukti berkorelasi positif dengan naiknya PDRB provinsi, terutama di daerah yang betul-betul libatkan pelaku usaha dan tenaga kerja lokal. Pertumbuhannya nggak cuma dari sektor konstruksi formal, lho. Tapi juga dari sektor informal dan UMKM yang sering kelewat dalam hitungan ekonomi makro. Toko bangunan kecil, pengrajin kusen, tukang las, sampai pedagang nasi di sekitar proyek, mereka semua adalah aktor penting dalam ekosistem ini.
Dengan kata lain, revitalisasi sekolah jadi jembatan. Menghubungkan kebijakan pendidikan dengan kebijakan ekonomi daerah. Program ini menyambungkan agenda peningkatan SDM dengan penguatan ekonomi akar rumput.
Di banyak tempat, sekolah itu pusatnya segala aktivitas. Sosial, tentu saja. Tapi juga ekonomi. Kehadirannya menghidupkan lingkungan sekelilingnya: pedagang, jasa ojek, warung alat tulis, sampai usaha kecil yang hidup dari aktivitas sekolah. Ketika sekolah direvitalisasi, simpul ekonomi ini ikut menguat. Proses pembangunannya ciptakan lonjakan permintaan. Setelah selesai, fasilitas yang lebih baik juga berpotensi tingkatkan aktivitas jangka panjang misalnya dengan bertambahnya siswa dan guru.
Efek jangka panjang inilah yang kerap diabaikan. Padahal, sekolah yang layak dan nyaman nggak cuma meningkatkan kualitas belajar. Ia juga memperkuat daya tarik suatu wilayah sebagai ruang hidup dan tempat berusaha.
Artikel Terkait
Waspada, Air di Lubang Runtuhan Tanah Bisa Mengandung Bahaya Tersembunyi
Normalisasi Lalu Lintas, Jalan Raya Puncak Kembali Dua Arah
Buruh Usul Subsidi Upah Rp 200 Ribu, DPRD DKI: Anggaran Tak Cukup
Dua Ayam Dicuri, Kapolsek Turun Tangan dan Kasus Berakhir Damai