Revitalisasi Sekolah: Ketika Dana Pendidikan Menggerakkan Ekonomi Daerah

- Jumat, 16 Januari 2026 | 16:55 WIB
Revitalisasi Sekolah: Ketika Dana Pendidikan Menggerakkan Ekonomi Daerah

Satu temuan LP3ES yang menarik adalah dampak nyatanya pada UMKM. Selama ini, UMKM sering cuma disebut sebagai "sektor yang terdampak positif" tanpa penjelasan rinci. Dalam konteks revitalisasi sekolah, dampaknya langsung terasa. Toko bangunan lokal laku semen dan pasir. Pengusaha mebel kecil dapet pesanan bangku. Warung makan ramai dikunjungi pekerja proyek. Usaha transportasi lokal pun ikut kebagian. Bagi UMKM di daerah dengan aktivitas ekonomi terbatas, proyek semacam ini bisa jadi jangkar yang menstabilkan.

Memang, ada kritik bahwa kebijakan pembangunan kita terlalu terpusat di kota. Infrastruktur megah dibangun, tapi manfaatnya nggak merata. Nah, di sinilah keunggulan revitalisasi sekolah. Program ini tersebar sampai ke pelosok. Hampir setiap desa punya sekolah, artinya potensi jangkaunya luas sekali. Efek penggandanya pun jadi lebih inklusif.

Tapi jangan salah, efek pengganda itu nggak otomatis terjadi. Beberapa prasyarat harus dipenuhi. Pertama, pelibatan pelaku lokal. Kalau proyeknya dikerjakan kontraktor besar dari luar daerah, ya uangnya kebanyakan bocor keluar. Efek untuk lokal jadi kecil.

Kedua, soal transparansi dan tata kelola. Programnya harus dikelola secara akuntabel. Jangan sampai jadi ladang korupsi atau proyek asal jadi. Kualitas bangunan yang buruk bukan cuma merugikan siswa, tapi juga bunuh potensi dampak ekonomi jangka panjang.

Ketiga, kesinambungan. Efeknya akan lebih kuat kalau revitalisasi dilakukan secara terencana dan berkelanjutan, bukan cuma serampangan atau sekadar reaksi dadakan.

Secara nasional, temuan ini harus jadi bahan refleksi. Selama ini, belanja pendidikan dan belanja ekonomi sering dipertentangkan. Padahal, revitalisasi sekolah menunjukkan keduanya bisa berjalan beriringan. Di tengah tekanan fiskal, pemerintah perlu prioritaskan program yang manfaatnya berlapis. Dan program ini memenuhi kriteria itu: tingkatkan kualitas pendidikan, ciptakan lapangan kerja, gerakkan UMKM, dan dorong PDRB daerah.

Ke depan, ukuran keberhasilannya nggak boleh cuma dari jumlah gedung yang direnovasi. Perlu pengukuran yang lebih komprehensif, yang memasukkan dampak ekonomi lokal dan kontribusinya pada PDRB. Kajian LP3ES sudah buka jalan. Tantangannya sekarang, bagaimana pemerintah dan pemangku kepentingan lain menjadikan temuan ini sebagai pijakan untuk perbaikan kebijakan.

Pada akhirnya, revitalisasi sekolah mengajarkan satu hal: investasi di pendidikan nggak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terkait dengan dinamika sosial dan ekonomi di sekelilingnya. Ketika ruang kelas diperbaiki, ekonomi lokal ikut bergerak. Saat kualitas sekolah meningkat, harapan untuk masa depan juga tumbuh. Menakar efek penggandanya bukan cuma urusan angka statistik. Ini soal bagaimana kebijakan publik bisa bekerja secara holistik menguatkan pendidikan sekaligus menghidupkan ekonomi rakyat.

Kalau dikelola dengan baik, program revitalisasi sekolah bukan cuma mencetak generasi yang lebih cerdas. Tapi juga membangun fondasi ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan.

Mohammad Nur Rianto Al Arif.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/Sekjen DPP Asosiasi Dosen Indonesia.


Halaman:

Komentar