Baginya, kasus ini lebih dari sekadar pelanggaran disiplin. Ini adalah kegagalan institusi dalam membentuk karakter manusia. Sungguh ironis, calon-calon dokter yang seharusnya belajar tentang empati dan penyembuhan, malah menjadi pelaku kekerasan.
Di sisi lain, Ubaid juga menyoroti sanksi yang diberikan kampus. Ia mengkritik keras, menyebut hukuman itu terlalu lembek dan tak menyelesaikan masalah. Penundaan wisuda dan SP2, dalam pandangannya, hanya seperti tempelan saja.
Suaranya lantang. Kritiknya pedas. Pertanyaannya sekarang, apakah ini akan jadi peringatan terakhir, atau hanya sekadar catatan kelam lain yang akan segera terlupakan? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Artikel Terkait
Polisi Selidiki Penganiayaan ART di Sunter, Pemicu Diduga Pengotoran Tempat Ibadah
Dolar AS Melonjak ke Level Tertinggi 5 Minggu Imbas Ketegangan Iran-AS
IRGC Klaim Serang Dubai dan Kuwait, AS Perkuat Armada Udara di Timur Tengah
Badan Gizi Nasional Bantah Isu Unggah Menu MBG Bisa Kena UU ITE