Baginya, kasus ini lebih dari sekadar pelanggaran disiplin. Ini adalah kegagalan institusi dalam membentuk karakter manusia. Sungguh ironis, calon-calon dokter yang seharusnya belajar tentang empati dan penyembuhan, malah menjadi pelaku kekerasan.
Di sisi lain, Ubaid juga menyoroti sanksi yang diberikan kampus. Ia mengkritik keras, menyebut hukuman itu terlalu lembek dan tak menyelesaikan masalah. Penundaan wisuda dan SP2, dalam pandangannya, hanya seperti tempelan saja.
Suaranya lantang. Kritiknya pedas. Pertanyaannya sekarang, apakah ini akan jadi peringatan terakhir, atau hanya sekadar catatan kelam lain yang akan segera terlupakan? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Artikel Terkait
Machado Serahkan Nobel Perdamaiannya ke Trump, Meski Tak Bisa Dialihkan
Fortuner Ringsek Jadi Penahan, Nyawa Pengendara Motor Selamat dari Truk yang Meluncur Mundur
Sekolah Rakyat: Dari Lorong Asrama Subuh Menuju Pemutus Rantai Kemiskinan
Setelah Pensiun, Mantan Sekjen Kemnaker Diduga Terima Aliran Rp 12 Miliar