Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) baru-baru ini mengumumkan sebuah operasi militer. Menurut mereka, pasukan angkatan lautnya telah melancarkan serangan yang mereka sebut "kompleks" ke Dubai, Uni Emirat Arab. Serangan itu memakai gabungan drone dan rudal, dengan target pasukan Amerika Serikat yang berada di sana.
Tak hanya Dubai, IRGC juga mengklaim punya target lain. Mereka menyatakan telah melakukan serangan drone terhadap Pangkalan Arifjan di Kuwait. Pangkalan itu, seperti diketahui, juga digunakan untuk menampung pasukan AS.
Menurut pernyataan mereka, serangan ke Kuwait itu melibatkan sepuluh drone. Dan semua drone tersebut, klaim IRGC, berhasil mencapai sasaran. Namun begitu, sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Kuwait maupun pihak AS soal klaim serangan ini. Keheningan mereka justru membuat situasi terasa makin tegang.
Di sisi lain, situasi di kawasan tampaknya semakin memanas. Media Aljazeera melaporkan, AS ternyata sedang memperkuat posisi militernya di Timur Tengah. Mereka dikabarkan mengerahkan 15 pesawat pengisian bahan bakar tambahan. Laporan ini, seperti disebutkan, bersumber dari media Israel, Hayom.
Kehadiran pesawat-pesawat tanker ini punya arti penting. Fungsinya adalah untuk mengisi bahan bakar jet tempur dan pesawat militer lainnya langsung di udara. Dengan begitu, operasi udara bisa berlangsung lebih lama dan lebih lincah tanpa harus bolak-balik mendarat.
Menurut laporan yang sama, pengiriman pesawat pengisian bahan bakar itu tidak berjalan sendirian. Mereka dikawal oleh sejumlah jet tempur, meski jumlah pastinya tidak diungkap. Langkah ini jelas memperlihatkan kesiapan siaga yang tinggi.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 3.0 Guncang Tapanuli Selatan
DPR Minta Kejelasan Pemerintah soal Nasib RUU Inisiatif, Termasuk Perlindungan PRT
Kades dan Kontraktor Klaten Ditahan Terkait Dugaan Korupsi Dana Renovasi Masjid Rp 203 Miliar
Iran Tegaskan Hak Nuklirnya Tak Bisa Ditawar, Desak AS Tunjukkan Itikad Baik