Iran Hadapi Kekosongan Kekuasaan, Majelis Pakar Dipercepat Cari Pengganti Khamenei

- Senin, 02 Maret 2026 | 03:45 WIB
Iran Hadapi Kekosongan Kekuasaan, Majelis Pakar Dipercepat Cari Pengganti Khamenei

Kematian Khamenei dan Pencarian Penerus yang Tak Terelakkan

Ayatollah Ali Khamenei tewas. Berita ini mengguncang dunia, hasil dari serangan gabungan yang dilancarkan AS dan Israel. Kini, pertanyaan besar menggantung di Teheran: siapa yang akan menggantikan sang pemimpin tertinggi itu?

Menurut laporan dari Al-Jazeera dan CNN, rezim ulama Iran sedang berada di titik kritis. Mereka harus mencari pengganti untuk figur yang telah memimpin dengan cara keras selama hampir empat puluh tahun. Masalahnya, tidak ada penerus resmi yang pernah diumumkan. Kekosongan kekuasaan ini menciptakan situasi yang benar-benar genting.

Nah, tugas berat itu jatuh ke pundak Majelis Pakar. Badan ini beranggotakan 88 ulama senior. Mereka punya wewenang penuh untuk memilih pemimpin baru. Sebenarnya, ini adalah kali kedua mereka menjalankan fungsi langka ini. Terakhir kali adalah lebih dari tiga dekade silam, saat mereka memilih Khamenei dengan tergesa-gesa setelah Ayatollah Khomeini wafat.

Pemerintah Iran tentu saja ingin terlihat cepat dan solid. Mereka butuh menunjukkan stabilitas. Untuk itu, para anggota majelis kemungkinan akan segera berkumpul. Mereka akan berembuk, mendiskusikan nama-nama calon yang dianggap layak sebelum akhirnya menentukan pilihan.

Tapi, apakah pertemuan itu akan benar-benar terlaksana? Situasinya tidak semudah itu. Presiden AS Donald Trump sudah bersumpah bahwa serangan bom ke rezim ini akan terus berlanjut. Risikonya sangat tinggi. Jadi, keberanian mereka untuk berkumpul di tengah ancaman masih jadi tanda tanya besar.

Di sisi lain, proses seleksinya sendiri punya kriteria ketat. Konstitusi Iran sudah mengatur syarat-syaratnya. Calonnya harus laki-laki, tentu saja seorang ulama. Dia juga harus punya kompetensi politik yang mumpuni, punya wibawa moral, dan yang paling penting: loyal tanpa syarat kepada Republik Islam.

Aturan-aturan ini, pada praktiknya, bisa ditafsirkan secara luas oleh Majelis Pakar. Banyak pengamat yang menduga, penafsiran itu akan digunakan untuk menyingkirkan calon-calon dari kalangan ulama reformis. Mereka yang punya gagasan tentang kebebasan sosial lebih besar atau ingin membuka hubungan dengan dunia luar, kemungkinan besar tak akan lolos.

Jadi, perjalanan mencari penerus Khamenei ini bukan sekadar prosedur. Ini adalah pertarungan menentukan masa depan Iran.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar