"Setiap bibit pohon yang kita tanam melalui program ini adalah hadiah Natal terbaik bagi generasi mendatang," jelas Herry.
Ia punya visi yang lebih luas. "Kita ingin mewujudkan moderasi beragama yang tidak hanya harmonis antarmanusia, tetapi juga berorientasi pada keberlanjutan lingkungan."
Di sisi lain, Herry tak menampik realitas yang selama ini melekat pada Riau. Ia justru mengajak seluruh umat Kristiani, dan tentunya semua elemen masyarakat, untuk mengubah narasi itu. Stigma Riau sebagai 'penghasil asap' harus dihapus. Sejarah kelam kebakaran hutan dan lahan harus ditutup untuk selamanya.
"Kita punya misi besar untuk mengubah Riau," tegasnya dengan penuh keyakinan. "Dari stigma sebagai 'penghasil asap', kita bertransformasi menjadi 'paru-paru Indonesia'. Ini adalah berkat yang harus kita perjuangkan bersama melalui persaudaraan universal dalam menjaga bumi."
Perayaan yang hangat itu pun ditutup dengan sebuah tindakan simbolis yang bermakna dalam: pemberian bibit pohon. Sebuah komitmen nyata, bahwa menjaga harmoni antara iman dan alam bukanlah wacana semata. Itu adalah jalan panjang yang baru saja dimulai, demi Riau yang lebih hijau dan berkelanjutan ke depannya.
Artikel Terkait
Wartawan Lagi Liput Curanmor, Malah Motornya Sendiri yang Raib
RUU Perampasan Aset: Ujian Nyata Komitmen DPR Berantas Korupsi
Cak Imin Peringatkan Ancaman Kemiskinan dan Tergerusnya Kelas Menengah Akibat Bencana Sumatera
Genangan Air Kembali Serbu Desa Idaman, Ratusan Jiwa Terdampak