Tes DNA Talent Berbasis AI: Cara Sekolah Rakyat Petakan Bakat Siswa Tanpa Ujian Akademik

- Kamis, 15 Januari 2026 | 18:35 WIB
Tes DNA Talent Berbasis AI: Cara Sekolah Rakyat Petakan Bakat Siswa Tanpa Ujian Akademik

Di tengah perhatian yang mengelilingi Sekolah Rakyat, inisiatif Presiden Prabowo Subianto, ada satu hal yang cukup menarik perhatian. Yakni, sistem tes potensi siswa yang mengandalkan kecerdasan buatan atau AI. Tes berstandar global ini jadi sorotan.

Kementerian Sosial selaku pelaksana program mendukung penuh penerapan tes ini. Tujuannya jelas: memetakan calon siswa yang punya potensi besar. Pilihan pada teknologi ini dinilai sangat strategis. Soalnya, Sekolah Rakyat memang tak pakai tes akademik biasa, baik untuk seleksi maupun dalam proses belajar-mengajar nantinya.

Suasana berbeda terasa jelang peresmian 166 titik Sekolah Rakyat rintisan dan groundbreaking 104 sekolah permanen se-Indonesia. Acara yang dipimpin langsung Presiden Prabowo di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1) itu, diawali dengan sebuah pertanyaan reflektif dari Ary Ginanjar Agustian, pendiri ESQ dan penggagas DNA Talent.

"Siapa yang merasa sukses angkat tangan," tanya Ary dalam keterangan tertulisnya, Kamis (15/1/2026).

Respons yang datang sungguh luar biasa. Ratusan siswa yang datang dari berbagai penjuru mulai Jakarta, Aceh Besar, Malang, hingga Jayapura dengan percaya diri mengangkat tangan tinggi-tinggi. Antusiasme itu tak bisa disembunyikan.

Melihat reaksi spontan itu, Ary Ginanjar pun makin yakin. Tujuan utama tes DNA Talent, katanya, tampaknya tercapai.

"Ini sekolah pertama dan satu-satunya, di Indonesia bahkan di dunia, yang mengukur kognisi dan bakat anak didiknya dengan cara seperti ini," ujar Ary dengan semangat.

Menurutnya, setiap anak di sini sebenarnya jenius, sesuai dengan kecerdasan unik mereka masing-masing. "Bisa jadi percontohan, tidak hanya di Indonesia tapi juga untuk dunia," tambahnya.

Lebih jauh Ary memaparkan, inovasi ini intinya ingin membuat proses belajar jadi lebih personal. Setiap murid akan dididik sesuai peta potensi dirinya sendiri. Tes yang digunakan mengacu pada model tiga dimensi: Drive (motivasi), Network (jejaring sosial), dan Action (gaya bertindak). Model ini, klaimnya, sudah terkonfirmasi stabil secara statistik dan memenuhi standar psikometri internasional.

Ia lalu membandingkan dengan kondisi umum. "Di sekolah lain, 92% anak bingung memilih jurusan. Bahkan, 70% di antaranya sampai salah pilih," ungkap Ary.

Sebagai penemu tes tersebut, Ary menyatakan kesiapannya menerima 35 lulusan Sekolah Rakyat untuk kuliah di Universitas Ary Ginanjar dan ESQ Business School pada 2027. Bahkan, tujuh orang di antaranya berpeluang bekerja di tempatnya. Ia tak meragukan kualitas mereka. Soalnya, sejak awal penerimaan, bakat setiap anak sudah terpetakan dengan baik.

Di sisi lain, dukungan juga datang dari Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul. Ia mengapresiasi penerapan tes DNA Talent ini saat melaporkan perkembangan Sekolah Rakyat di hadapan Presiden Prabowo.

"Karena tidak ada tes akademik di Sekolah Rakyat, maka kami melakukan Tes DNA Talent berbasis AI untuk memetakan potensi siswa," jelas Gus Ipul.

Ia berterima kasih kepada Ary Ginanjar atas dukungannya. Menurutnya, tes ini memungkinkan pemetaan dilakukan secara objektif, terukur, dan komprehensif. Hasilnya, setiap siswa bisa dapat pendampingan yang tepat untuk kembangkan potensi mereka.

Berdasarkan pemetaan yang sudah dilakukan, Gus Ipul menyebut keragaman potensi siswa sungguh luar biasa. Ada yang kuat di ranah sains dan teknologi, ada yang menonjol di bidang sosial, dan tak sedikit yang punya bakat besar dalam bahasa.

"Melalui pemetaan talenta, kami menemukan potensi yang sangat beragam," tegasnya.

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto secara resmi telah meluncurkan 166 Sekolah Rakyat yang tersebar di 34 provinsi. Saat ini, program tersebut telah memberi manfaat bagi hampir 16.000 siswa. Mereka didukung oleh lebih dari 2.200 guru dan sekitar 4.900 tenaga kependidikan, mencakup jenjang SD, SMP, hingga SMA sederajat.

Dalam sambutannya, Presiden menyampaikan apresiasi mendalam kepada Kementerian Sosial dan semua pihak yang terlibat. Ia menyebut Sekolah Rakyat sebagai sebuah terobosan, langkah berani dalam upaya pengentasan kemiskinan.

"Terima kasih semuanya, kita telah mewujudkan upaya ini," kata Prabowo.

Dengan nada haru, ia menutup, "Saya terus terang saja cukup bahagia, cukup besar hati. Saya terharu sebetulnya melihat dampak daripada upaya kita."

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar