Video Lukis Gajah di Bali Viral, BKSDA: Itu Video Lama, Sudah Tak Ada Lagi

- Senin, 15 Desember 2025 | 15:00 WIB
Video Lukis Gajah di Bali Viral, BKSDA: Itu Video Lama, Sudah Tak Ada Lagi

Video itu beredar luas di media sosial, memicu kecaman. Tampak seorang turis asing sedang melukis tubuh seekor gajah di sebuah objek wisata Bali. Banyak warganet yang geram, menilai aksi tersebut sebagai bentuk eksploitasi terhadap satwa.

Menurut Ratna Hendratmoko, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, lokasi kejadiannya adalah Mason Elephant Park & Lodge di Gianyar. Namun, dia menegaskan bahwa video tersebut bukanlah hal baru.

"Itu video lama," katanya saat dihubungi Senin (15/12).

"Awal 2022 pasca COVID, dilakukan oleh teman-teman yang memegang izin Lembaga Konservasi Umum di sana."

Hendratmoko mengaku sudah turun langsung ke lokasi dan meminta penjelasan dari pengelola. Alasan mereka? Terpaksa. Pasca pandemi, kunjungan wisatawan merosot tajam. Dampaknya, kemampuan finansial untuk membeli pakan satwa pun ikut tertekan.

Pihak pengelola mengaku atraksi melukis tubuh gajah itu adalah salah satu cara untuk menarik kembali turis dan mengumpulkan dana. Terutama untuk kebutuhan pakan gajah dan donasi di masa pandemi.

"Mereka melakukan itu pada waktu itu untuk menarik pengunjung," jelas Hendratmoko.

"Yang kedua juga berdasarkan kebutuhan, ya, untuk pakan gajah. Itu klarifikasi dari mereka."

Setelah diperiksa, BKSDA menyimpulkan atraksi itu sudah tidak dilakukan lagi. Kondisi para gajah di sana juga terpantau baik. "Nggak ada lagi itu. Video lama itu ya," tegasnya.

Di sisi lain, ini membuka pertanyaan lain yang lebih luas. Di Bali, tercatat ada lima lembaga resmi yang mengelola 84 ekor gajah dengan izin konservasi umum. Atraksi seperti "elephant riding", mandi bersama, atau berfoto masih jadi andalan.

Soal larangan? Hendratmoko mengaku tangan BKSDA agak terikat. Saat ini, belum ada aturan hukum yang secara tegas melarang atraksi semacam itu. Meski begitu, pihaknya sudah mulai mengimbau para pengelola untuk mencari alternatif lain dan menghentikan "elephant riding" secara bertahap.

"Karena di Indonesia belum ada pelarangan, sehingga masih dimungkinkan," ujarnya.

"Tapi kami mendorong agar pengelola segera mempunyai alternatif tematik lain, selain "elephant riding"."

Sampai berita ini diturunkan, manajemen Mason Elephant Park & Lodge sendiri belum memberikan tanggapan resmi terkait video viral tersebut. Sementara di media sosial, pertanyaan dan protes dari publik terus mengalir. Banyak yang mempertanyakan, sebenarnya seberapa aman cat yang digunakan untuk tubuh gajah itu, meski diklaim organik. Pertanyaan yang, untuk sekarang, masih menggantung.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler