Langit Merah di Victoria: Kisah Warga Indonesia Menghadapi Amukan Api

- Kamis, 15 Januari 2026 | 17:35 WIB
Langit Merah di Victoria: Kisah Warga Indonesia Menghadapi Amukan Api

"Saya mencoba tenang, karena [asap] kelihatan sangat dekat sekali dari halaman belakang [rumah]," katanya.

"Dan tetangga sudah mulai berkumpul di depan rumah."

Beruntung, angin kemudian berbalik arah, menjauhi Colac. Lisda dan Suri pun akhirnya tak perlu mengungsi. Meski begitu, malam itu mereka sama sekali tidak bisa tidur. Aplikasi VicEmergency terus dipantau, khawatir situasi berubah tiba-tiba.

"Masih berjaga-jaga, karena takut angin itu berbalik," ujar Lisda.

Trauma yang Kembali

Bagi Lisda, peristiwa ini membangkitkan kenangan pahit. Rumah masa kecilnya di Indonesia dulu juga pernah habis dilalap api, saat usianya baru lima tahun. Kini, tinggal sendiri setelah suaminya meninggal, kecemasannya terasa lebih besar.

"Dua puluh delapan tahun tinggal di bush [kawasan semak-semak] karena suami ada di samping, enggak begitu khawatir. Sekarang ini hidup sendiri... Wah, kebayang kan, bagaimana?" ujarnya. "Tapi puji Tuhan, tetangga kiri, kanan, semua baik... banyak membantu kita, saling komunikasi."

Ia mengaku, selama di Colac, belum pernah merasakan situasi separah ini. "Kota Colac itu sebenarnya aman... Cuma kemarin itu karena sudah 40 derajat sampai hampir satu minggu, kering, tidak ada hujan, anginnya begitu kencang... itulah yang membuat kebakaran menyerang."

Angga punya perbandingan sendiri. Ia tiba di Australia pada Februari 2024, dan sempat melihat kebakaran di area yang sama di akhir tahun itu. Tapi, kata dia, skalanya jauh berbeda.

"Kalau dulu mungkin tidak besar, jadi bisa dipadamkan dengan helikopter atau pemadam kebakaran," jelasnya.

"Namun tahun ini, kebakarannya sangat luar biasa, bahkan banyak rumah terbakar dan banyak yang [hewan] peternakannya, kambing-kambingnya pada mati. Sungguh-sungguh dahsyat."

Pengalaman mengungsi yang melelahkan itu membuatnya berpikir untuk pindah ke daerah perkotaan Melbourne, yang dirasa lebih aman. Ada pelajaran berharga yang ia petik: kesiapsiagaan adalah kunci.

"Mungkin kita [belajar untuk] lebih wanti-wanti," katanya.

"Kita siap untuk mengemas barang... lebih sigap... kita siapkan barang-barang di mobil, jadi ketika ada informasi yang tidak enak atau warning, kita lebih cepat untuk keluar dari daerah tersebut."

Sementara itu, upaya pemadaman di beberapa titik di Victoria masih terus dilakukan. Pemerintah sudah menggelontorkan bantuan lebih dari 100 juta dolar Australia, separuhnya dialokasikan khusus untuk membantu para petani yang terdampak.

Premier Victoria Jacinta Allan menegaskan komitmennya.

"Kita telah melihat… bagaimana kebakaran telah menghancurkan komunitas, kita telah kehilangan rumah dan bisnis," katanya Rabu lalu (14/01).

"Pemerintah akan terus berdiri bersama warga dalam perjalanan pemulihan yang panjang ke depan dan dukungan tersedia, dan kami akan terus berada di lapangan untuk mendengarkan warga."

Pemulihan memang masih panjang. Bagi Angga, Lisda, Suri, dan ribuan warga lainnya, hidup harus kembali dibangun perlahan. Sambil berharap angin kencang dan cuaca ekstrem tak lagi membawa malapetaka seperti ini.


Halaman:

Komentar