Guru SMK di Jambi Dikeroyok Murid Usai Tegur Siswa di Kelas

- Kamis, 15 Januari 2026 | 12:05 WIB
Guru SMK di Jambi Dikeroyok Murid Usai Tegur Siswa di Kelas

Suasana belajar di sebuah SMK Negeri di Tanjung Jabung Timur, Jambi, berubah ricuh Selasa pagi lalu. Seorang guru, Agus Saputra, dikeroyok sejumlah muridnya di area sekolah. Peristiwa memilukan ini terjadi di tengah jam pelajaran, dan rekamannya kini membanjiri media sosial.

Dalam video yang beredar, terlihat Agus menjadi sasaran amuk siswa. Ada pula cuplikan lain yang tak kalah mencemaskan: sang guru terlihat mengacungkan celurit, berusaha membubarkan kerumunan siswa yang mengitarinya. Situasinya benar-benar di luar kendali.

Menurut penuturan Agus, semuanya berawal dari sebuah teguran yang tidak pantas. Saat ia berjalan di depan kelas, seorang siswa meneriakkan kata-kata kasar ke arahnya. "Kejadiannya berawal peneguran siswa di kelas di saat belajar ada guru," ujar Agus, Kamis (15/1/2026).

"Dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar."

Merasa dilecehkan, Agus pun memasuki ruangan. Ia menuntut siswa yang bersangkutan untuk mengaku. Salah satu murid akhirnya maju. Namun alih-alih menyesal, siswa tersebut justru menantang sang guru. Agus mengaku, refleksnya saat itu adalah menampar si murid.

"Saya masuk ke kelas memanggil siapa yang meneriakkan saya seperti itu. Dia langsung menantang saya, akhir saya refleks menampar muka dia," katanya.

Bagi Agus, tamparan itu adalah bentuk pendidikan moral. Tapi jelas, siswa yang ditampar tidak terima. Pertikaian pun meruncing dan sempat coba diredam oleh guru lain. Di sisi lain, muncul versi lain dari sejumlah siswa. Mereka menyebut Agus telah memicu keributan dengan menghina seorang murid dengan sebutan 'miskin'.

Agus membantah tudingan itu. Katanya, ucapannya adalah motivasi, bukan hinaan.

"Iya saya melontarkan sebagai motivasi, saya tidak bermaksud mengejek. Saya menceritakan secara umum. Saya mengatakan, 'kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam'. Itu secara motivasi pembicaraan," ungkapnya tegas.

Mediasi yang dilakukan pun alot. Agus memberi dua pilihan: siswa membuat petisi agar ia tidak mengajar lagi, atau mereka berubah. Siswa malah meminta Agus yang meminta maaf. Negosiasi menemui jalan buntu.

Dan kemudian, tragedi itu terjadi. Saat berjalan menuju ruang guru usai mediasi, Agus diserang secara beramai-ramai.

"Setelah mediasi itu, saya diajak komite ke kantor. Di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh saya," kenangnya.

Akibat pengeroyokan itu, tubuh Agus penuh memar, termasuk di pipinya. Ia telah melaporkan kejadian ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, berharap ada penyelesaian yang adil. Sementara itu, video-video itu terus beredar, meninggalkan pertanyaan besar tentang hubungan guru dan murid di lingkungan sekolah.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar