Agus membantah tudingan itu. Katanya, ucapannya adalah motivasi, bukan hinaan.
"Iya saya melontarkan sebagai motivasi, saya tidak bermaksud mengejek. Saya menceritakan secara umum. Saya mengatakan, 'kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam'. Itu secara motivasi pembicaraan," ungkapnya tegas.
Mediasi yang dilakukan pun alot. Agus memberi dua pilihan: siswa membuat petisi agar ia tidak mengajar lagi, atau mereka berubah. Siswa malah meminta Agus yang meminta maaf. Negosiasi menemui jalan buntu.
Dan kemudian, tragedi itu terjadi. Saat berjalan menuju ruang guru usai mediasi, Agus diserang secara beramai-ramai.
"Setelah mediasi itu, saya diajak komite ke kantor. Di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh saya," kenangnya.
Akibat pengeroyokan itu, tubuh Agus penuh memar, termasuk di pipinya. Ia telah melaporkan kejadian ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, berharap ada penyelesaian yang adil. Sementara itu, video-video itu terus beredar, meninggalkan pertanyaan besar tentang hubungan guru dan murid di lingkungan sekolah.
Artikel Terkait
Iran Bergegas Cari Pengganti Khamenei Usai Pemimpin Tertinggi Tewas
InJourney Airports Buka Pendaftaran Mudik Gratis 2026 hingga 5 Maret
Iran Hadapi Kekosongan Kekuasaan, Majelis Pakar Dipercepat Cari Pengganti Khamenei
Iran Hadapi Masa Transisi Krusial Pasca-Wafatnya Pemimpin Tertinggi Khamenei