Nah, di tengah situasi yang tegang itu, Araghchi justru tampil dengan nada yang lebih kalem. Menurutnya, sepuluh hari demonstrasi damai sempat diwarnai tiga hari kekerasan yang ia klaim diatur oleh Israel. Tapi sekarang, semuanya sudah tenang. Pernyataannya ini sekaligus mengabaikan peringatan keras dari Presiden AS Donald Trump.
Gelombang protes yang mengguncang Iran sejak sebulan terakhir ini awalnya berakar pada kekecewaan atas ekonomi yang morat-marit. Namun, gerakannya kemudian berkembang, berubah menjadi tantangan yang lebih luas terhadap pemerintahan teokratis yang telah berkuasa puluhan tahun.
Kerusuhan dan kekerasan pun tak terhindarkan. Seorang pejabat Iran, yang enggan disebut namanya, mengungkapkan angka yang mencengangkan: sekitar 2.000 orang dikabarkan tewas dalam aksi unjuk rasa besar-besaran tersebut. Sebuah angka yang sulit dibayangkan, dan menggambarkan betapa panasnya situasi di lapangan.
Artikel Terkait
Genangan Air Masih Bertahan, Tiga Kabupaten di Banten Belum Pulih dari Banjir
Prabowo Undang 1.200 Rektor dan Guru Besar ke Istana, Bahas Strategi Besar Pendidikan
Iran Tutup Langit, Penerbangan Air India Terpental dan Batal
Iran di Persimpangan: Protes, Nuklir, dan Ancaman Perang yang Menggantung