Angka korban keracunan makanan bergizi gratis (MBG) di Mojokerto akhirnya dikunci. Pemerintah Kabupaten setempat memastikan totalnya mencapai 411 orang. Sebuah angka yang cukup besar untuk sebuah kejadian yang bermula dari program pemberian makan tambahan bagi anak-anak.
Bupati Mojokerto, Muhammad Albarraa atau yang akrab disapa Gus Barra, memberikan rinciannya. Dari ratusan korban itu, 334 orang sudah diperbolehkan pulang karena kondisi mereka membaik. Namun begitu, masih ada 77 pasien yang harus menjalani perawatan inap di berbagai fasilitas kesehatan.
"Sekarang kami sudah menutup pasien dengan keluhan (keracunan) MBG karena masa inkubasi ini sudah lewat," ujar Gus Barra saat ditemui di RSUD Prof dr Soekandar, Mojosari.
Ia menegaskan, jika ada keluhan baru setelah masa inkubasi berlalu, itu tidak lagi dihitung sebagai bagian dari kejadian ini. Penambahan terakhir tercatat tujuh orang, dan mayoritas korbannya adalah anak-anak. Meski begitu, beberapa orang dewasa juga ikut terdampak. Biasanya, mereka ikut mencicipi makanan yang dibawa pulang oleh anak-anak mereka.
Lalu, apa penyebabnya? Menurut Gus Barra, semua komponen dalam soto ayam MBG itu diduga menjadi sumber masalah. Dugaan kuatnya mengerucut pada satu hal: cara penyimpanan yang salah.
"Bisa jadi karena penyimpanannya. Karena penyimpanannya itu harus suhu minus supaya awet. Lah itu kemarin dicek ke sana (SPPG) kurang dari itu," jelasnya.
Penyimpanan di Suplier Pangan Penyedia Gizi (SPPG) yang tidak memenuhi suhu yang ditentukan diduga menjadi pemicu. Suhu yang tidak cukup dingin itu memungkinkan bakteri berkembang biak dengan cepat, akhirnya meracuni makanan yang seharusnya bergizi.
Artikel Terkait
Wamendagri Soroti Keberhasilan Kampung Jambon Gesikan Magelang sebagai Role Model Lingkungan
Polda Sumsel Bersihkan Masjid dan Gereja dalam Rangka Hari Bhayangkara ke-80
Trump Desak Hizbullah Patuhi Gencatan Senjata Lebanon-Israel
Polisi Hentikan Penyidikan Tiga Tersangka Tudingan Ijazah Palsu Jokowi