Era Emas Pekerja Eropa Berakhir, Pasar Tenaga Kerja Mulai Mendingin

- Rabu, 14 Januari 2026 | 14:05 WIB
Era Emas Pekerja Eropa Berakhir, Pasar Tenaga Kerja Mulai Mendingin

Di tengah awan kelabu, masih ada titik terang. Spanyol, yang diuntungkan lonjakan pariwisata pasca-COVID, diproyeksi mengalami pertumbuhan pekerjaan kuat tahun ini. Begitu juga Luksemburg, Irlandia, Kroasia, Portugal, dan Yunani.

Julian Stahl, pakar dari platform perekrutan XING, memberi catatan.

"Kelangkaan pekerja yang dulu terasa luas, sekarang jadi lebih spesifik per sektor," ujarnya. "Masih ada kekurangan serius di ritel, kesehatan, logistik, teknik, dan peran-peran yang sangat spesialis."

Artinya, perekrutan belum benar-benar berhenti. Hanya fokusnya yang berubah.

Ancaman dan Transformasi Bernama AI

Di atas semua itu, ada satu 'guncangan' yang terus menggema: kecerdasan buatan. Eropa mungkin tertinggal dari AS dan Cina dalam adopsi AI, tapi kekhawatiran karyawan tak kalah besar. Studi Ernst & Young (EY) Juli lalu menemukan, seperempat pekerja Eropa khawatir AI ancam pekerjaan mereka. Bahkan 74% percaya perusahaan akan butuh lebih sedikit karyawan karena teknologi ini.

Institute for Employment Research (IAB) di Nürnberg memperkirakan 1,6 juta pekerjaan di Jerman bisa berubah atau hilang karena AI pada 2040. Posisi dengan keterampilan tinggi justru paling terdampak, meski sektor teknologi diperkirakan ciptakan sekitar 110.000 pekerjaan baru.

Enzo Weber dari IAB mencoba menenangkan.

"Ini akan membawa transformasi besar di pasar tenaga kerja, bukan pengurangan total pekerjaan," tegasnya.

John Springford dari Centre for European Reform melihat sisi positif.

"Banyak tugas rutin bisa dialihkan ke AI, sehingga tenaga manusia bisa fokus pada hal yang lebih produktif. Ada alasan kuat untuk percaya pekerjaan profesional dan berbasis pengetahuan tak akan menyusut," paparnya.

Bagi banyak pekerja, kemajuan AI ini bisa jadi momen pencerahan yang mendadak seperti yang digambarkan Anthony Klotz, pencetus istilah Great Resignation, dalam bukunya. Momen itu bisa menjadi katalis, mendorong mereka untuk bergerak lebih dini, sebelum otomatisasi benar-benar mengubah segalanya.

Jadi, pasar tenaga kerja Eropa memang sedang mencari keseimbangan baru. Di antara desakan efisiensi, terpaan krisis industri, dan bayang-bayang transformasi digital, pekerja dan perusahaan sama-sama berusaha bertahan dan mencari cara untuk tetap relevan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha


Halaman:

Komentar