Partai yang matang seharusnya berani kalah dan siap menang.
Keterlibatan partai dalam politik uang juga sulit dibantah. Coba pikir, bagaimana mungkin praktik masif seperti itu bisa berjalan tanpa ada keterlibatan, atau setidaknya pembiaran, dari struktur partai? Bahkan, ketika kandidat lebih mengandalkan tim sukses informal di luar partai, itu justru pertanda buruk: partai kehilangan kendali. Mereka malah dikendalikan oleh kandidat bermodal tebal.
Ini semua bermuara pada satu masalah mendasar: kegagalan kaderisasi. Karena partai gagal mencetak pemimpin dari dalam, mereka jadi tergantung pada orang luar yang punya duit. Otoritas pun berpindah dari partai ke pemilik modal.
Nah, di tengah semua masalah ini, pilkada langsung justru menjaga satu hal penting: kebebasan memilih. Iya, sistem ini sulit dikendalikan. Kandidat bermodal besar pun bisa kalah. Karena pada akhirnya, di bilik suara, pemilik suara punya kebebasan. Survei PRC menunjukkan, alasan utama pemilih memilih adalah karena calon dianggap jujur dan anti-korupsi, bukan karena uang.
Jadi, menghapus pilkada langsung sama sekali bukan solusi. Itu cuma cara gampang untuk menutupi kegagalan partai membenahi diri sendiri.
Jika partai ingin marwahnya kembali, yang dibutuhkan bukan mengubah sistem. Tapi keberanian untuk berkompetisi secara jujur, kesiapan untuk kalah, kaderisasi yang serius, dan komitmen jadi penyelenggara yang independen. Itu saja.
Nurul Fatta. Pengamat Politik di Politika Research & Consulting (PRC).
Artikel Terkait
Anggota DPR Endro Hermono Salurkan Bantuan PIP untuk Siswa Madrasah di Blitar
Mendagri Tito Dengar Langsung Keluhan Daerah Terdampak di Sumbar
Saksi Ungkap Momen Rapat Direksi Kemendikbud Diinterupsi Soal Pengadaan Chromebook
Tragis, Pasutri Tewas Kesetrum Saat Bersihkan Rumah dari Banjir Cilincing