Putra Mahkota di Pengasingan: Reza Pahlavi dan Mimpi Transisi Iran yang Terus Menggelora

- Senin, 12 Januari 2026 | 18:30 WIB
Putra Mahkota di Pengasingan: Reza Pahlavi dan Mimpi Transisi Iran yang Terus Menggelora

Namun begitu, beberapa pengamat percaya Pahlavi tetap bisa memainkan peran. “Pada titik tertentu, gerakan perlawanan butuh sosok politik sebagai ‘manajer’, jika bukan sebagai figur pemersatu,” kata Alex Vatanka, pakar dari Middle East Institute di AS.

“Tak ada orang lain yang punya nama dan garis keturunan seperti yang dimiliki Pahlavi. Tapi, jalan yang harus ia tempuh tetap berat. Ia harus meyakinkan banyak pihak yang skeptis bahwa ia akan menjadi manajer transisi yang setia pasca-Khamenei, dan tidak akan memonopoli kekuasaan begitu ada kesempatan.”

Di sisi lain, beberapa langkah Pahlavi justru berpotensi merugikan dukungannya. Beberapa tahun terakhir, ia aktif menjalin hubungan dengan sejumlah pemimpin dunia. Yang paling mencolok tentu pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada musim semi 2023. Netanyahu diketahui termasuk pendukung utamanya. Mengingat permusuhan lama antara Iran dan Israel, hubungan ini jadi bumerang. Banyak warga Iran yang memandang pemerintah Netanyahu sebagai agresor, terutama setelah perang bulan Juni.

Transisi yang tak semudah dibayangkan

Lantas, mungkinkan protes-protes terkini benar-benar meruntuhkan rezim? Situasinya masih sangat tidak pasti. Lewat pesan di media sosial, Pahlavi terus mendesak agar pemogokan dan protes nasional dilanjutkan. Meski begitu, pesannya belakangan terasa lebih hati-hati, terutama setelah aksi keras terhadap pengunjuk rasa.

Memang, ada sinyal positif ketika para pedagang yang biasanya mendukung pemerintah ikut turun ke jalan di Teheran. Tapi para pengamat tetap skeptis. Mereka meragukan Iran bisa berubah menjadi demokratis dalam sekejap.

“Negara Iran itu mapan dan penuh krisis, baik secara kelembagaan maupun dari sisi aparat keamanan,” jelas Arshin Adib-Moghaddam, ahli dari SOAS University of London. “Demonstrasi saja tidak akan cukup untuk mengganti sistem. Para pengkaji serius Iran paham, banyak dari apa yang kita dengar tentang negara ini lebih berupa ilusi politik, jauh dari realita di lapangan.”

Pandangan serupa diungkapkan Vatanka. Menurutnya, kunci keberhasilan ada pada kemampuan para pengunjuk rasa bertahan di jalanan, memicu pembelotan di dalam tubuh rezim, serta peran aktor eksternal seperti AS dan diaspora yang bisa “membentuk peristiwa” dari luar.

Baginya, kemampuan rezim bertahan bergantung pada apakah mereka bisa kembali menekan oposisi publik. “Pertanyaannya bukan cuma apakah mereka bisa mengatasi gelombang protes kali ini,” tulis Vatanka, “tapi apakah mereka punya tenaga untuk menghadapi gelombang berikutnya, yang pasti datang, meski yang sekarang ini gagal menggulingkan mereka.”


Halaman:

Komentar