Di Banjarmasin, Senin lalu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul mengumumkan sebuah capaian. Ternyata, sudah ada 166 Sekolah Rakyat (SR) yang beroperasi di seluruh Indonesia. Angkanya cukup signifikan: lebih dari lima belas ribu siswa kini mendapat tempat belajar.
“Totalnya 166 titik yang tersebar di 34 provinsi, mencakup 131 kabupaten dan kota,” ujar Gus Ipul dalam acara peresmian.
Dia melanjutkan dengan detail yang lebih hidup, “Kalau dihitung semua, sekolah-sekolah ini menampung 15.954 siswa. Mereka didukung oleh 2.218 guru dan hampir lima ribu tenaga kependidikan.”
Menurut Gus Ipul, program ini berjalan mengikuti arahan langsung Presiden Prabowo Subianto. Bahkan, ide mendirikan Sekolah Rakyat ini disebutnya berasal dari gagasan sang presiden sendiri.
“Saya ingat betul arahan beliau dalam Sidang Kabinet Oktober lalu,” katanya, menyitir perkataan presiden.
“Intinya, Sekolah Rakyat kita rancang untuk memutus mata rantai kemiskinan. Jangan sampai anak orang miskin, nasibnya tetap miskin. Kita harus berani ubah keadaan ini, tidak boleh cuma menyerah.”
Di sisi lain, sasaran program ini memang sangat spesifik. Kemensos secara sengaja menjangkau dan menerima siswa dari keluarga yang benar-benar rentan secara ekonomi. Mereka yang kerap tak terlihat dalam statistik.
“Kami berusaha menemukan mereka yang sering luput dari perhatian. The invisible people, begitulah. Penderitaannya tak selalu terlihat. Maka, penjangkauan kami fokuskan pada keluarga yang paling tidak mampu,” jelas Gus Ipul.
Hasilnya? Sebuah potret nyata kehidupan.
“Faktanya, 60% orang tua siswa SR bekerja serabutan. Sebagai buruh harian, buruh bangunan, nelayan, tukang ojek, bahkan pemulung. Penghasilannya tidak menentu,” tambahnya.
Rinciannya lebih memprihatinkan. Sekitar 67% keluarga tersebut berpenghasilan di bawah satu juta rupiah per bulan. Lebih dari separuhnya juga punya tanggungan keluarga lebih dari empat orang. Kehidupan yang memang serba sulit.
Tak hanya itu, ada pula cerita-cerita pilu di balik angka. Sebanyak 454 siswa sebelumnya sama sekali belum pernah merasakan sekolah. Lalu, 298 lainnya adalah anak putus sekolah. Beberapa di antaranya bahkan sudah harus bekerja di usia belia.
“Kami juga menemukan kenyataan yang lebih sunyi,” ungkap Gus Ipul dengan nada lebih rendah.
“Banyak anak berasal dari orang tua tunggal. Tidak sedikit pula yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.”
Soal proses seleksinya, Gus Ipul melaporkan bahwa mekanismya cukup ketat. Rekrutmen diawali dengan pengecekan lapangan yang dilakukan bersama pendamping sosial, dinas sosial daerah, dan BPS. Baru setelah itu, calon siswa mendapatkan persetujuan dari kepala daerah dan resmi ditetapkan.
Peresmian ke-166 Sekolah Rakyat ini sendiri tak berjalan sendirian. Ada dukungan dari beberapa pihak, seperti Bank Negara Indonesia (BNI), Kementerian Pekerjaan Umum, dan PT Pos Indonesia. Sebuah kolaborasi yang diharapkan bisa terus mengentaskan mereka dari belenggu ketidaktahuan.
Artikel Terkait
Korban Kekerasan Pesantren di Bangka Alami Cedera Limpa, Kondisi Mulai Membaik
Kejati Riau Geledah Kantor KSOP dan Pelindo Dumai Terkait Dugaan Tindak Pidana Kepelabuhanan
Trump Klaim Presiden Xi Jinping Setop Pengiriman Senjata ke Iran
TNI AU Gelar Bazar Murah di Makassar untuk Rayakan HUT ke-80