Polantas 2026: Dari Pengatur Jalan Menuju Sahabat Pengendara

- Minggu, 01 Februari 2026 | 15:05 WIB
Polantas 2026: Dari Pengatur Jalan Menuju Sahabat Pengendara

Awal tahun 2026, Korlantas Polri kembali menegaskan komitmennya untuk melayani masyarakat. Kali ini, Kakorlantas Irjen Agus Suryonugroho memerintahkan jajarannya untuk lebih gencar menjalankan program 'Polantas Menyapa dan Melayani'. Ini bukan sekadar instruksi biasa, melainkan bentuk nyata dari arahan langsung Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Kapolri sendiri selalu menekankan agar setiap anggota Polri hadir sebagai pelayan dan penolong yang humanis. Nah, semangat itulah yang coba dihidupkan kembali.

"Sesuai arahan Bapak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, semangat melayani harus menjadi urat nadi setiap anggota di lapangan," ujar Irjen Agus kepada wartawan, Minggu (1/2/2026).

Ia melanjutkan, "Polantas bukan hanya pengatur jalan, tapi pelayan yang hadir dengan empati."

Di balik program itu, ada filosofi yang cukup mendalam. Irjen Agus ingin mengubah citra Polantas di mata publik. Dari sosok yang ditakuti karena otoritasnya, menjadi sosok yang justru dicari karena kepeduliannya. Otoritas yang dimiliki, tegasnya, jangan sampai malah digunakan untuk menakut-nakuti. Kehadiran polantas di titik rawan harusnya justru memberi rasa aman dan jadi solusi bagi pengendara yang kesusahan.

"Menyapa adalah bahasa kemanusiaan," tuturnya. "Kita ingin meruntuhkan sekat antara petugas dan warga."

Baginya, jalan raya lebih dari sekadar aspal dan kendaraan. "Jalan raya itu bukan sekadar tempat kendaraan melintas, tapi ruang peradaban. Di sana ada etika, ada keselamatan, dan ada kepedulian yang harus kita jaga bersama."

Transformasi Pelayanan Berbasis Hati

Lebih jauh, Irjen Agus meminta seluruh jajaran di Indonesia untuk mengedepankan profesionalisme yang berkeadilan. Sikap arogan saat bertugas harus dihilangkan. "Melayani itu wujud pengabdian," tegasnya. "Membantu tanpa pamrih, memberikan solusi bagi masyarakat yang kesulitan di jalan. Kita rangkul semua lapisan masyarakat."

Program ini nantinya juga akan diintegrasikan dengan teknologi digital. Penerapan ETLE dan ETLE Drone Patrol Presisi akan diperkuat. Tujuannya jelas: mewujudkan pelayanan yang modern sekaligus transparan.

Tapi jangan salah. Teknologi canggih saja tidak cukup. Penegakan SOP yang ketat dan pendekatan humanis tetap menjadi pilar utama. Sistem ini diharapkan tidak dirasakan sebagai pengawasan yang menyeramkan, melainkan sebagai bentuk keadilan bagi semua.

Bagi Irjen Agus, ETLE bukan alat jebakan semata. "Keselamatan lalu lintas adalah yang utama," tegasnya. "Lalu lintas adalah cermin budaya bangsa, maka patuh dan tertib berlalu lintas adalah kunci keselamatan di jalan."

Teknologi seperti drone patroli disebutnya membuat pengawasan lebih luas dan objektif. Interaksi langsung yang minim antara petugas dan pengendara juga dianggap bisa menjaga akuntabilitas penindakan.

Namun begitu, ada satu hal yang ia tekankan. "Secanggih apa pun teknologi, sentuhan kemanusiaan melalui sapaan yang tulus tetap tidak tergantikan," ingatnya.

Intinya sederhana. "Intinya adalah menyapa dengan hati, melayani dengan profesional. Kita ingin masyarakat merasa Polantas adalah sahabat mereka dalam menjaga keselamatan," pungkas Irjen Agus menutup pembicaraan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar