Hasilnya? Sebuah potret nyata kehidupan.
“Faktanya, 60% orang tua siswa SR bekerja serabutan. Sebagai buruh harian, buruh bangunan, nelayan, tukang ojek, bahkan pemulung. Penghasilannya tidak menentu,” tambahnya.
Rinciannya lebih memprihatinkan. Sekitar 67% keluarga tersebut berpenghasilan di bawah satu juta rupiah per bulan. Lebih dari separuhnya juga punya tanggungan keluarga lebih dari empat orang. Kehidupan yang memang serba sulit.
Tak hanya itu, ada pula cerita-cerita pilu di balik angka. Sebanyak 454 siswa sebelumnya sama sekali belum pernah merasakan sekolah. Lalu, 298 lainnya adalah anak putus sekolah. Beberapa di antaranya bahkan sudah harus bekerja di usia belia.
“Kami juga menemukan kenyataan yang lebih sunyi,” ungkap Gus Ipul dengan nada lebih rendah.
“Banyak anak berasal dari orang tua tunggal. Tidak sedikit pula yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.”
Soal proses seleksinya, Gus Ipul melaporkan bahwa mekanismya cukup ketat. Rekrutmen diawali dengan pengecekan lapangan yang dilakukan bersama pendamping sosial, dinas sosial daerah, dan BPS. Baru setelah itu, calon siswa mendapatkan persetujuan dari kepala daerah dan resmi ditetapkan.
Peresmian ke-166 Sekolah Rakyat ini sendiri tak berjalan sendirian. Ada dukungan dari beberapa pihak, seperti Bank Negara Indonesia (BNI), Kementerian Pekerjaan Umum, dan PT Pos Indonesia. Sebuah kolaborasi yang diharapkan bisa terus mengentaskan mereka dari belenggu ketidaktahuan.
Artikel Terkait
Pengemudi Melawan Arus di Gunung Sahari Tabrak Kendaraan, Dikejar Warga hingga Jadi Tersangka
Persib Bandung Hadapi Madura United dengan Komposisi Terbaik di BRI Super League
KPK Sita Rp 5 Miliar di Rumah Aman Ciputat, Kaitkan dengan Kasus Bea Cukai
Anak Buronan Riza Chalid Divonis 15 Tahun Penjara atas Korupsi Minyak