Harapannya sederhana: pengelolaan sampah ditangani lebih serius. “Mau ada sampah nggak apa-apa, yang penting cepat diangkut. Kalau pun bau, jangan sampai segininya masuk ke rumah kami,” harapnya.
Lalat pun Berpesta
Keluhan serupa datang dari Syahrul, warga lain yang sudah 50 tahun hidup di sana. Menurutnya, tumpukan sampah yang sudah menahun itu mengundang masalah lain: lalat bertebaran. Situasi ini makin menjadi-jadi saat musim buah tiba, di mana serangga itu berkerumun di depan rumah warga.
Yang membuatnya miris, banyak warga sebenarnya resah namun memilih diam. Mereka enggan menyuarakan protes, baik ke pengelola pasar maupun ke Dinas Lingkungan Hidup.
Jadi, di balik hiruk-pikuk perdagangan sayur dan buah di Pasar Induk Kramat Jati, ada persoalan lama yang terus membusuk. Menunggu solusi yang tak kunjung tuntas, sementara warga hanya bisa menutup hidung dan berharap angin tak membawa bau itu ke arah mereka.
Artikel Terkait
Program Beasiswa S1 Guru 2026: Pengalaman Mengajar Dikonversi Jadi SKS
DPR dan Pemerintah Gelar Rapat Lanjutan untuk Pemulihan Aceh
KPK Amankan Delapan Orang di Kantor Pajak Jakut Terkait Dugaan Suap Pengurangan Pajak
KPK Gelar OTT di Kantor Pajak Jakarta Utara, Pegawai dan Wajib Pajak Diamankan